Wall Street Berakhir Variatif: Dow Jones Cetak Rekor Baru di Tengah Kejatuhan Saham Teknologi

110
wall street

(Vibiznews – Index) – Setelah mencatat pergerakan naik yang kuat selama beberapa sesi terakhir, indeks saham utama di bursa Wall Street menunjukkan kinerja yang beragam pada  perdagangan yang berakhir Rabu dinihari (17/6/2026).

Indeks Nasdaq dan S&P 500 mengalami aksi ambil untung, indeks Dow Jones yang berkapitalisasi besar justru berhasil melaju hingga mencetak rekor penutupan tertinggi baru dengan melonjak 0,6 persen ke level 51.999,67.

Sebaliknya, indeks Nasdaq yang didominasi oleh saham-saham teknologi raksasa menunjukkan penurunan signifikan, turun  1,2% ke level 26.376,34 dan indeks S&P 500 juga ikut melemah sebesar 42,94 poin atau 0,6% ke level 7.511,35.

Penguatan Dow Jones dipimpin oleh kinerja gemilang dari saham perbankan raksasa, JPMorgan Chase (JPM), yang melonjak hingga 3,7%. Selain JPM, saham-saham blue-chip lainnya seperti Visa (V), Home Depot (HD), dan 3M (MMM) juga mencatatkan kenaikan yang kuat, memberikan bantalan bagi indeks di tengah tekanan pada sektor teknologi.

Penurunan pada Nasdaq dan S&P 500 terjadi oleh aksi ambil untung investor  setelah penguatan pasar yang masif baru-baru ini.

Meskipun optimisme atas berakhirnya konflik AS-Iran yang berlangsung berbulan-bulan sempat memicu pemulihan pasar, sebagian pelaku pasar memilih untuk profit taking sambil menunggu kesepakatan diselesaikan secara formal.

Tekanan terbesar bagi Nasdaq berasal dari pelemahan besar di sektor semikonduktor dengan Philadelphia Semiconductor Index anjlok 5,7%.

Koreksi juga melanda saham-saham jaringan, yang menekan NYSE Arca Networking Index turun sebesar 2,5%.

Di luar sektor teknologi, penurunan tajam harga minyak mentah yang berkepanjangan terus menekan saham-saham jasa perminyakan dengan  Philadelphia Oil Service Index turun 2,4%.

Namun, di sisi lain, saham-saham sektor emas, perbankan, dan perumahan tampil perkasa dengan mencatatkan pergerakan naik yang kuat.

Kinerja saham yang bervariasi di bursa Wall Street ini juga mencerminkan sikap hati-hati investor menjelang pengumuman kebijakan moneter Federal Reserve pada hari Rabu.

The Fed secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya tidak berubah. Namun, perhatian utama pasar pada pernyataan resmi dan komentar perdana pasca-pertemuan dari Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, karena proyeksi dapat mempengaruhi prospek suku bunga ke depan.

Dari laporan ekonomi,  harga impor pada bulan Mei melonjak sebesar 1,9%, menyusul kenaikan  sebesar 2% pada bulan April. Angka ini jauh lebih tinggi dari perkiraan para ekonom yang memproyeksikan kenaikan sebesar 1%.

Secara tahunan, laju pertumbuhan harga impor meningkat menjadi 6,7% pada bulan Mei, mencerminkan peningkatan tahunan terbesar sejak Agustus 2022, yang menandakan tantangan inflasi AS masih cukup berat.