(Vibiznews – Economy) Pasar keuangan dunia pekan ini, 3 hingga 7 Agustus 2026, dibayangi tiga sentimen utama, yakni rilis data tenaga kerja AS, kelanjutan laporan laba emiten teknologi AI, serta eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Global dan Wall Street
Fokus utama pasar tertuju pada rilis Non-Farm Payrolls AS pada Jumat, 7 Agustus, yang akan menjadi penentu arah suku bunga The Fed. Data tenaga kerja yang terlalu kuat berisiko menunda pemangkasan suku bunga pada September. Musim laba turut menjadi sorotan lewat laporan Palantir dan AMD yang akan menguji keberlanjutan siklus belanja investasi AI, sementara data ISM PMI manufaktur dan jasa menjadi indikator risiko perlambatan ekonomi global.
Regional Asia Pasifik
Data manufaktur Caixin China yang terkontraksi di bawah level 50 menambah tekanan bagi bursa Asia, di tengah penantian stimulus tambahan dari Beijing. Pasar juga mencermati arah kebijakan Bank of Japan pasca pengetatan sebelumnya, serta bersiap menghadapi rapat kebijakan Bank Sentral Australia dan India pekan depan. Risiko inflasi impor turut membayangi negara importir energi neto di kawasan.
Komoditas dan Geopolitik
Akhir pekan ini Presiden Trump menghentikan serangan AS terhadap Iran untuk dilakukan pembicaraan untuk mencapai kesepakatan. Kondisi naik dan turunnya ketegangan AS-Iran mempengaruhi pergerakan dolar AS, harga minyak, juga harga emas, yang akan mempengaruhi pasar global.
Gangguan pelayaran di Selat Hormuz meningkatkan ancaman terhadap jalur distribusi minyak dunia, berpotensi mendorong harga minyak mentah naik dan memicu kekhawatiran inflasi baru di Asia.
Di tengah ketidakpastian ini, emas tetap diminati sebagai aset lindung nilai.
IHSG dan Rupiah
IHSG dibuka menguat 0,59 persen pada Senin, 3 Agustus, bergerak di kisaran 6.241 hingga 6.249, ditopang laba emiten domestik semester I-2026 dan mulai masuknya kembali dana asing. Bursa Efek Indonesia juga memberlakukan rebalancing indeks LQ45, IDX30, dan IDX80 mulai pekan ini. Penguatan IHSG diperkirakan berpeluang 60 hingga 65 persen, lebih terbatas dari biasanya, seiring ketidakpastian suksesor Gubernur Bank Indonesia pasca mundurnya Perry Warjiyo.
Rupiah menguat 0,49 persen di awal pekan seiring pelemahan Dolar AS, namun berisiko tertekan menjelang rilis NFP jika yield US Treasury melonjak. Ekspor komoditas Indonesia berpotensi menjadi penopang jika harga komoditas naik akibat eskalasi Timur Tengah.
Level Teknis
IHSG: support 6.180 sampai 6.200, resistance 6.290 sampai 6.340, tren konsolidasi positif cenderung bullish.
Rupiah: stabil dengan kecenderungan menguat tipis, ketahanan akan diuji jika Dolar AS berbalik menguat.
Sektor penopang utama IHSG pekan ini didominasi bahan baku, teknologi, dan barang konsumsi.





