Bursa Wall Street Akhir Pekan Mixed; Berpeluang Menguat di Awal Pekan ini

75
New York Stock Exchange - Vibizmedia Photo

(Vibiznews – Index) – Bursa Saham Wall Street mengakhiri perdagangan akhir pekan lalu, Jumat, 18 September 2026, dengan pergerakan bervariasi setelah dilanda volatilitas tinggi sepanjang pekan akibat keputusan kenaikan suku bunga Federal Reserve. Memasuki awal pekan ini, Senin 21 September 2026, bursa berpotensi dibuka menguat seiring membaiknya sentimen risiko investor global.

Pada penutupan Jumat, Indeks Dow Jones Industrial Average melemah -0,18% atau 95,40 poin ke level 51.682,64, sementara Indeks S&P 500 menguat tipis 0,17% ke level 7.650,50 dan Indeks Nasdaq Composite naik 0,39% ke level 26.522,55. Pelemahan Dow Jones turut menyeret indeks tersebut mencatatkan kinerja mingguan terburuknya sejak Maret, dengan saham IBM ambles -3,19%, Walt Disney turun -2,68%, dan Nike terkoreksi -2,26% menjadi pemberat utama. Di sisi lain, penguatan Amgen 1,54%, Nvidia 1,33%, dan Caterpillar 1,20% turut menahan pelemahan lebih dalam.

Volatilitas sepanjang pekan lalu dipicu oleh keputusan Federal Reserve yang menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak 2023 pada Rabu (16/9), disertai proyeksi masih akan ada kenaikan lanjutan ke depan, yang sempat membuat Dow Jones dan S&P 500 anjlok tajam pasca pengumuman. Namun sentimen berbalik pada Kamis (17/9), ketika ketiga indeks utama melonjak signifikan — Dow Jones melesat 316,14 poin (0,6%) ke 51.778,04, S&P 500 naik 1,1% ke 7.637,76, dan Nasdaq Composite melompat 1,7% ke 26.418,30 — ditopang pelemahan harga minyak, penurunan imbal hasil obligasi, serta data ketenagakerjaan yang solid.

Pada penutupan Jumat, imbal hasil Treasury tenor 10 tahun kembali naik ke kisaran 5,006% setelah sempat mereda pada Kamis, masih berada di dekat level psikologis 5% yang sebelumnya sempat disentuh untuk pertama kalinya sejak 2007. Harga minyak dunia sepanjang pekan relatif stagnan namun tetap bertahan di atas level $100 per barel, sehingga kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan arah kebijakan The Fed selanjutnya masih membayangi pelaku pasar.

Memasuki perdagangan Senin (21/9) ini, bursa berjangka (futures) Wall Street bergerak menguat signifikan sejak pembukaan sesi malam, dengan kontrak berjangka S&P 500 naik sekitar 0,3%–0,9% dan kontrak berjangka Nasdaq 100 melonjak lebih dari 1% dari level penutupan Jumat, mengindikasikan potensi pembukaan yang solid untuk pekan baru. Indeks volatilitas CBOE (VIX) juga turun ke kisaran 14,81, mencerminkan menurunnya permintaan proteksi terhadap risiko penurunan pasar dan membaiknya selera risiko investor.

Penguatan sentimen pasar pagi ini turut didorong oleh optimisme menjelang pembicaraan dagang Amerika Serikat–Tiongkok, sebelum rencana pertemuan puncak antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung pekan ini, di tengah harga minyak dunia yang menahan pelemahannya. Saham-saham teknologi dan yang terkait kecerdasan buatan (AI) seperti Nvidia turut memimpin penguatan bursa berjangka, sementara sejumlah saham mega-cap defensif seperti Microsoft, Apple, Meta, dan Tesla bergerak lebih tertahan.

Sepanjang pekan ini, pelaku pasar akan mencermati sejumlah rilis data ekonomi penting, di antaranya data ketenagakerjaan mingguan ADP dan indeks manufaktur Richmond pada Selasa, data flash PMI manufaktur dan jasa pada Rabu, klaim pengangguran mingguan serta penjualan rumah baru pada Kamis, dan data pesanan barang tahan lama beserta revisi sentimen konsumen pada Jumat.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan bursa Wall Street pada pekan ini akan diwarnai oleh optimisme menjelang perkembangan hubungan dagang AS-Tiongkok, namun tetap dibayangi kewaspadaan terhadap arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve pasca kenaikan pekan lalu, pergerakan harga minyak dunia, serta imbal hasil Treasury yang masih bertahan mendekati level psikologis 5%.