(Vibiznews – Index) – Bursa Saham Wall Street pada penutupan pasar hari Kamis waktu AS (24 September 2026) berakhir bergerak bervariasi (mixed) dan cenderung stagnan. Indeks S&P 500 hampir tidak berubah, sementara indeks Dow Jones Industrial Average melemah dan indeks Nasdaq Composite berhasil menguat tipis setelah sempat tertekan berkat aksi borong saham teknologi (buy the dip).
Indeks S&P 500 ditutup turun tipis -0,02% ke level 7.704,13. Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah -0,31% ke level 51.349,98. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite ditutup menguat tipis +0,01% ke level 26.939,37.
Lonjakan yield obligasi kembali menjadi tekanan utama bagi pasar pada sesi perdagangan kali ini. Yield US Treasury tenor 10 tahun melonjak ke level 5,16%, level tertinggi sejak Juli 2007. Tingginya biaya pinjaman ini memicu kekhawatiran investor bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya lagi untuk meredam inflasi yang masih membandel.
Volatilitas harga minyak mentah turut membayangi sentimen pasar. Harga minyak Brent berfluktuasi tajam di kisaran USD 99 hingga USD 102 per barel akibat ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung di Timur Tengah. Ketakutan akan guncangan energi berkelanjutan terus membayangi prospek inflasi global ke depan.
Di tengah tekanan pasar obligasi, resiliensi data ekonomi AS turut menjadi perhatian investor. Klaim pengangguran mingguan AS kembali turun mendekati level terendah dalam 57 tahun. Ekonomi yang tetap ekspansif ini memberi sinyal kuat bagi pelaku pasar bahwa ekonomi AS cukup tangguh menahan beban suku bunga tinggi untuk saat ini.
Dari sisi korporasi, saham Meta melesat +4% menyusul rilis perangkat lunak agen AI terbarunya, Muse AI, yang disambut positif oleh investor. Sebaliknya, sektor perbankan dan ritel tradisional tertekan, dipimpin oleh penurunan saham Walmart -2,67% dan IBM -2,44%, yang turut menahan laju penguatan indeks Dow Jones.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan bursa Wall Street pada sesi perdagangan selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh arah lanjutan yield obligasi AS yang telah menyentuh level tertinggi sejak 2007, volatilitas harga minyak dunia di tengah ketidakpastian geopolitik Timur Tengah, serta data ekonomi AS lanjutan yang akan menjadi pertimbangan penting bagi arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.








