(Vibiznews – Forex) Indeks dolar AS berakhir turun pada akhir pekan hari Jumat, tertekan pelemahan harga minyak dan penguatan pasar saham.
Indeks dolar AS berakhir turun 0,32% pada 100,97.
Dolar AS melemah tertekan harga minyak mentah WTI turun lebih dari -2%, yang meredakan ekspektasi inflasi dan memengaruhi pertimbangan kebijakan The Fed.
Demikian juga, penguatan pasar saham pada hari Jumat menekan permintaan likuiditas untuk dolar.
Namun pelemahan dolar AS dibatasi oleh berita ekonomi AS yang lebih baik dari perkiraan pada hari Jumat, termasuk data pesanan baru barang modal bulan Agustus (non-pertahanan, tidak termasuk pesawat dan suku cadangnya) serta indeks sentimen konsumen AS bulan September dari University of Michigan.
Data pesanan baru barang modal AS bulan Agustus (non-pertahanan, tidak termasuk pesawat dan suku cadangnya)—yang menjadi indikator bagi belanja modal—naik +1,6% secara bulanan (m/m), lebih kuat dari perkiraan kenaikan +0,6% m/m. Angka bulan Juli juga direvisi naik menjadi +0,6% m/m dari laporan sebelumnya yang menunjukkan angka tidak berubah secara bulanan.
Indeks sentimen konsumen AS bulan September dari University of Michigan secara tak terduga direvisi naik sebesar +0,3 menjadi 48,1; angka ini lebih kuat dibandingkan perkiraan revisi turun ke level 47,5.
Selain itu, komentar hawkish Presiden The Fed New York, John Williams—yang menyatakan bahwa The Fed perlu mengembalikan inflasi ke tingkat target—memberikan dukungan bagi dolar.
Presiden The Fed New York, John Williams, menyatakan bahwa The Fed tidak dapat mengabaikan guncangan pasokan jika hal tersebut berdampak persisten terhadap harga, dan menegaskan perlunya mengembalikan inflasi ke tingkat target.
Pasar memperhitungkan adanya peluang sebesar 64% bagi kenaikan suku bunga The Fed sebesar +25 basis poin (bp) pada pertemuan FOMC berikutnya, yang dijadwalkan pada tanggal 27-28 Oktober.
Ketegangan AS-Iran kembali berlanjut di akhir pekan, melalui pernyataan kedua belah pihak yang belum menemui kesepakatan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada hari Minggu menyatakan bahwa negaranya siap menghadapi perang melawan AS, namun ia tetap membuka pintu bagi diplomasi untuk perdamaian.
Pada hari Jumat, Araghchi telah mengusulkan pembukaan kembali selat tersebut dan dimulainya kembali perundingan nuklir dengan AS dalam waktu tujuh hari, dengan syarat pemerintahan Trump menerima ketentuan yang diajukan Iran.
Presiden Trump mengatakan pada hari Sabtu bahwa Iran telah mengajukan usulan namun ia menolaknya, dengan alasan bahwa Teheran menginginkan pembukaan kembali selat tersebut secara segera karena posisi mereka sedang melemah.
Selain menolak kesepakatan itu, Trump menyatakan rencananya untuk kembali membom Teheran setelah pemilihan umum paruh waktu AS pada bulan November.
Malam nanti akan ada pernyataan dari pejabat Fed Barkin.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, indeks dolar AS dapat bergerak naik dengan masih berlangsungnya ketegangan AS-Iran yang dapat meningkatkan permintaan safe haven dolar AS dan meningkatkan harga minyak. Juga jika malam nanti pernyataan pejabat Fed bernada hawkish, akan menguatkan dolar AS. Indeks dolar AS diperkirakan bergerak dalam kisaran Resistance 101,22-101,48. Namun jika turun, akan bergerak dalam kisaran Support 100,79-100,62.








