Rekomendasi Forex Dolar AS 5 Oktober 2026 : Dapat Tertekan Penurunan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Fed; Terdukung Kebuntuan Negosiasi AS-Iran dan Penguatan Data Ekonomi

57

(Vibiznews – Forex) Indeks dolar AS ditutup turun pada akhir pekan hari Jumat, tertekan data ketenagakerjaan AS bulan September yang lebih lemah dari perkiraan.

Indeks dolar AS ditutup turun 0,05% pada 101,93.

Non Farm Payrolls September AS menurun, Tingkat Penganggurtan September AS meningkat, dan rata-rata pendapatan per jam AS meningkat di bawah ekspektasi, sehingga mengurangi kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada akhir bulan ini.

Non Farm Payrolls AS bulan September naik sebesar +29.000, lebih rendah dari perkiraan +90.000, sementara data bulan Agustus direvisi turun menjadi +133.000 dari angka awal +162.000.

Tingkat pengangguran bulan September secara tak terduga naik +0,1 menjadi 4,2%, menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang lebih lemah dibandingkan ekspektasi yang memperkirakan angka tetap di 4,1%.

Rata-rata pendapatan per jam di AS pada bulan September naik +0,1% secara bulanan (*m/m*) dan +3,0% secara tahunan (*y/y*), lebih rendah dari perkiraan masing-masing sebesar +0,3% (*m/m*) dan +3,1% (*y/y*).

Penurunan harga minyak mentah WTI sebesar -1% pada hari Jumat menurunkan ekspektasi inflasi dan berpotensi mendorong The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter, yang merupakan faktor pelemahan bagi dolar AS.

Dolar juga tertekan oleh laporan pesanan pabrik AS bulan Agustus yang lebih lemah dari perkiraan.

Pesanan pabrik AS bulan Agustus naik +0,1% (*m/m*), lebih rendah dari perkiraan +0,2% (*m/m*), sedangkan pesanan pabrik di luar sektor transportasi naik +0,3% (*m/m*), lebih rendah dari perkiraan +0,6% (*m/m*).

Namun, dolar pulih dari level terendahnya pada hari Jumat setelah imbal hasil Treasury AS membalikkan penurunan awal dan bergerak naik.

Selain itu, komentar bernada hawkish dari Presiden The Fed Dallas, Lorie Logan, memberikan dukungan bagi dolar; ia menyatakan bahwa The Fed mungkin perlu menaikkan suku bunga setidaknya 50 basis poin (bp) lagi untuk meredam inflasi.

Pada Kamis malam, Presiden The Fed Dallas, Lorie Logan, menyatakan: “Saat ini saya memperkirakan kisaran target suku bunga fed funds perlu dinaikkan sebesar 50 bp lagi atau lebih untuk menyeimbangkan prospek dan risiko terkait tujuan mandat ganda kami secara tepat.”

Pasar memperhitungkan adanya peluang sebesar 22% untuk kenaikan suku bunga The Fed sebesar +25 basis poin (bp) pada pertemuan FOMC berikutnya tanggal 27-28 Oktober. Angka ini turun dari pekan lalu sebesar 64%.

Ketegangan AS-Iran masih terus berlanjut di akhir pekan ini, membuat kesepakatan untuk membuka Selat Hormuz masih dalam jalan buntu. Setidaknya ada beberapa hal yang membuat ketegangan terus berlanjut : pernyataan Iran untuk Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai Washington memenuhi tujuh syarat, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan adanya serangan terhadap dua kapal selama akhir pekan di perairan dekat Oman dan Iran, kelompok Houthi menyatakan telah menyerang fasilitas utama Saudi Aramco di dekat Riyadh menggunakan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone).

Malam nanti akan dirilis data ekonomi ISM Services PMI September AS, S&P Global Services PMI Final September AS dan S&P Global Composite PMI Final September AS, yang ketiganya diindikasikan meningkat.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, indeks dolar AS dapat bergerak turun dengan penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga Fed bulan Oktober 2026. Namun jika ketegangan ketegangan AS-Iran dan kebuntuan negosiasi pembukaan Selat Hormuz terus berlanjut, akan menguatkan dolar AS. Juga jika malam nanti data ekonomi AS terealisir naik, akan menguatkan dolar AS. Indeks dolar AS diperkirakan bergerak dalam kisaran Support 101,68-101,44. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance 102,15-102,38.