Wall Street Tertekan Data Inflasi AS yang Tinggi, Nasdaq Melemah 500 Poin Lebih

90
nasdaq wall street

(Vibiznews – Index) – Bursa saham Wall Street ditutup melemah signifikan pada akhir perdagangan Rabu (Kamis (15/10/2026) pagi WIB). Tekanan aksi jual melanda bursa New York setelah rilis data inflasi (CPI) AS tercatat lebih tinggi dari perkiraan.

Tingginya data inflasi tersebut memicu kekhawatiran pasar terkait arah kebijakan suku bunga The Fed dan menekan sektor teknologi serta saham berkapitalisasi kecil.

Indeks Dow Jones melemah tipis 48,62 poin atau 0,09% ke level 51.621,48, S&P 500 merosot 1,11% dan berakhir di posisi 7.718,94, dan Nasdaq terkoreksi tajam  511,51 poin atau 1,88% ke posisi  26.692,87.

Sentimen yang menggerakkan indeks Wall Street:

1. Laporan Inflasi (CPI) AS melebihi perkiraan.
Rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS periode September mencatatkan kenaikan tahunan dan inti (core CPI) yang melampaui estimasi. Kenaikan biaya tempat tinggal  shelter  dan harga minyak menjadi penopang utama lonjakan inflasi, meredam ekspektasi pemangkasan suku bunga yang agresif oleh Federal Reserve dalam waktu dekat.

2. Koreksi Sektor Teknologi dan AI
Sektor teknologi informasi memimpin penurunan di S&P 500 dengan anjlok hingga 3,00%. Saham-saham raksasa teknologi dan infrastruktur AI seperti Nvidia (-3,09%), Dell Technologies (-11,27%), dan Oracle (-8,83%) tertekan oleh kecemasan atas tingginya valuasi serta kekhawatiran dampak suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama.

3. Rotasi Sektor defensive.
Di tengah pelemahan pasar  investor melakukan rotasi ke sektor Defensif seperti sektor kesehatan dan sektor konsumer seperti saham UnitedHealth Group (+4,73%) yang menahan tekanan lebih dalam pada indeks Dow Jones.

Analis Vibiz Research Center menilai volatilitas pasar saham AS diperkirakan masih cukup tinggi dalam beberapa sesi mendatang seiring penyesuaian ekspektasi suku bunga The Fed pasca data inflasi.