Pengaruh Pemilu Sela (Midterm) AS terhadap Pasar Global

60
wall street

(Vibiznews – Economy & Business) Pemilu sela (midterm) AS digelar tanggal 3 November 2026, di tengah masa jabatan presiden. Pemilu ini sering dipandang sebagai rapor kinerja pemerintahan. Dalam sejarahnya, hanya tiga kali sejak 1906 partai presiden menambah kursi di DPR, jadi kehilangan kursi adalah hal yang lazim.

Menurut analisis menjelang pemilu, partai Demokrat perlu tambahan bersih empat kursi untuk mayoritas di Senat, sedangkan hasil imbang 50–50 tetap membuat partai Republik berkuasa lewat suara penentu wakil presiden.

Mengapa pasar global peduli

AS adalah ekonomi terbesar dunia. Kebijakannya soal pajak, tarif, suku bunga, dan regulasi memengaruhi arus modal, harga komoditas, dan nilai tukar di seluruh dunia. Pemilu sela tidak mengganti presiden, tetapi menentukan seberapa leluasa presiden menjalankan agendanya. Penyebabnya, Kongres memegang kendali anggaran, legislasi, dan pengawasan.

Jalur transmisi ke pasar

a. Ketidakpastian dan volatilitas jangka pendek. Pasar tidak suka ketidakpastian. Tahun pemilu sela cenderung lebih bergejolak dengan imbal hasil lebih lemah menjelang pemilu, lalu periode setelahnya sering jauh lebih kuat bagi investor. Begitu hasil jelas, ketidakpastian hilang, dan itu sering cukup untuk mendorong pasar naik.

b. Kebijakan fiskal dan pajak. Hasil pemilu memengaruhi ekspektasi belanja pemerintah, perpajakan, regulasi, dan kebijakan industri. Belanja besar dan defisit melebar berarti lebih banyak penerbitan obligasi, yang menekan yield Treasury naik. Yield Treasury adalah patokan biaya modal global.

c. Perdagangan dan tarif. Kongres bisa mendukung atau membatasi kebijakan tarif. Ini sangat penting bagi negara berkembang dan ekonomi berbasis ekspor, termasuk Indonesia.

d. Suku bunga, The Fed, dan dolar. The Fed independen dari pemilu. Namun jalur fiskal dan tarif memengaruhi inflasi dan pertumbuhan, sehingga memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter, arah dolar AS, dan tekanan pada mata uang emerging market.

e. Sektor tertentu. Pemilu ini bisa memengaruhi investasi AI, kebijakan energi, ekspektasi pajak, dan suku bunga. AI dan pusat data kini juga menjadi isu politik yang mendapat perhatian lebih besar pada siklus ini. Pertahanan, energi, kesehatan, dan teknologi biasanya paling sensitif terhadap perubahan komposisi Kongres.

f. Geopolitik. Kongres berperan dalam anggaran pertahanan, sanksi, dan dukungan ke sekutu. Perubahan komposisinya bisa menggeser arah kebijakan luar negeri AS.

Skenario hasil dan dampaknya

Skenario Implikasi kebijakan Kecenderungan pasar
Republik tetap kuasai kedua kamar Deregulasi berlanjut, tarif tetap sentral, dan belanja pertahanan dapat naik lagi Kontinuitas, sehingga sektor pro-deregulasi dan pertahanan diuntungkan. Risiko tarif dan defisit tetap ada.
Demokrat rebut DPR, Republik pegang Senat (divided government) Agenda legislatif Presiden tersendat, pengawasan meningkat, dan kebuntuan anggaran berpotensi naik Kebijakan lebih mudah ditebak karena sulit ada perubahan besar. Risiko jangka pendek adalah drama plafon utang atau penutupan pemerintah.
Demokrat kuasai kedua kamar Peluang pembatasan tarif dan revisi kebijakan pajak atau regulasi meningkat Perubahan arah paling besar, sehingga volatilitas sektoral bisa lebih tinggi.

Skenario tengah sering dianggap paling “ramah pasar” karena kebijakan sulit berubah drastis. Data historis mendukungnya: sejak 1990, pemerintahan terbelah terjadi lima kali, dan setiap kali S&P 500 naik dalam 12 bulan berikutnya dengan rata-rata 12%. Itu korelasi, bukan hubungan sebab-akibat. Jumlah sampelnya kecil dan banyak faktor lain bekerja bersamaan.

Dampak ke berbagai kelas aset

  • Saham AS: Biasanya bergejolak menjelang pemilu dan cenderung reda setelahnya. Sektor teknologi, energi, dan pertahanan paling sensitif terhadap kebijakan.
  • Obligasi dan yield Treasury: Naik jika pasar menduga belanja dan defisit membesar, dan turun jika kebuntuan politik membatasi belanja.
  • Dolar AS: Cenderung menguat saat ketidakpastian meningkat, tetapi arah akhirnya bergantung pada ekspektasi suku bunga dan tarif.
  • Emas: Biasanya didukung oleh ketidakpastian politik dan fiskal. Dolar yang kuat dan yield tinggi bisa menahan kenaikannya.
  • Minyak dan komoditas: Dipengaruhi kebijakan energi, tarif, dan geopolitik. Peran faktor pasokan dan permintaan global biasanya lebih dominan.
  • Pasar negara berkembang (termasuk Indonesia): Jalur utamanya adalah dolar, yield Treasury, dan arus modal asing. Dolar kuat dan yield tinggi menekan rupiah, IHSG, dan harga SBN lewat arus keluar modal asing. Sebaliknya, kepastian politik dan dolar yang melemah mendukung aset berisiko di kawasan. Tarif juga memengaruhi ekspor Indonesia.
  • Kripto: Sensitif terhadap kebijakan regulasi dan sentimen risiko global.

Catatan penting

  1. Pengaruh politik sering dilebih-lebihkan. Para analis menegaskan politik hanyalah salah satu faktor, dan pasar digerakkan oleh kekuatan ekonomi yang lebih luas. Inflasi, kebijakan The Fed, laba korporasi, dan tema seperti AI sering lebih dominan. Tahun 2026 pun belum berperilaku seperti tahun pemilu sela yang “khas”.
  2. Reaksi awal sering reda cepat. Pasar biasanya sudah memperhitungkan hasil yang diunggulkan, sehingga yang menggerakkan harga adalah kejutan dibanding ekspektasi.
  3. Mencoba mengatur waktu investasi berdasarkan pemilu berisiko. Menurut BlackRock, membiarkan politik memandu keputusan investasi bisa mahal.

Yang perlu dipantau setelah hasil keluar

  • Komposisi akhir DPR dan Senat, termasuk kemungkinan penghitungan yang ketat atau berlarut-larut.
  • Sinyal sikap Gedung Putih soal tarif dan anggaran.
  • Pidato dan data The Fed serta data inflasi AS terbaru.
  • Pergerakan indeks dolar, yield Treasury 10 tahun, VIX, dan emas.
  • Sektor yang kebijakannya paling terpengaruh, yaitu AI dan pusat data, energi, serta pertahanan.

Kesimpulan: Pemilu sela AS memengaruhi pasar global terutama lewat dua jalur, yaitu hilangnya ketidakpastian dan perubahan ekspektasi kebijakan fiskal, tarif, dan regulasi. Efek jangka pendek berupa volatilitas bisa signifikan, tetapi efek jangka panjangnya biasanya lebih kecil dibanding faktor ekonomi dan moneter. Bagi pasar Indonesia, yang paling perlu dicermati adalah dolar, yield Treasury, dan arah kebijakan tarif.