(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak A.S. tetap mendekati level tertinggi dua tahun pada hari Kamis karena penutupan pipa Keystone dan turunnya persediaan di pasar minyak mentah dunia, meski terjadi kenaikan output.
Minyak mentah di bursa berjangka A.S. West Texas Intermediate (WTI) berada di $ 57,95 per barel pada 01:43 GMT, turun 7 sen dari harga penutupan terakhir, namun masih mendekati level tertinggi 2015 di $ 58,15 per barel yang dicapai pada hari sebelumnya.
Harga minyak mentah Brent, patokan internasional untuk harga minyak, berada di $ 63,19 per barel, 13 sen di bawah harga penutupan terakhir.
Harga WTI telah didukung oleh penutupan pipa Keystone yang berproduksi 590.000 barel per hari (bpd), salah satu jaringan pipa minyak mentah terbesar dari wilayan Kanada sampai ke Amerika Serikat, dan juga oleh penarikan lain dalam persediaan bahan bakar komersial yang terjadi meskipun ada rekor produksi minyak AS.

Persediaan minyak mentah A.S turun 1,9 juta barel dalam sepekan hingga 17 November menjadi 457,14 juta barel, yang sebelumnya telah turun 15 persen dari catatan di bulan Maret, ke level di bawah 2016.
Penurunan persediaan terjadi karena pipa Keystone yang menghubungkan ladang minyak Alberta di Kanada ke Amerika Serikat ditutup minggu lalu setelah terjadi tumpahan minyak di South Dakota.

Pasar juga memperketat persediaan global karena sebuah usaha yang dipimpin oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekelompok produsen non-OPEC, termasuk Rusia, untuk menahan produksi.
Kesepakatan untuk mengekang produksi akan berakhir pada Maret 2018, namun OPEC akan bertemu pada 30 November untuk membahas prospek kebijakan tersebut, dan diharapkan kelompok tersebut akan memperpanjang pemotongan tersebut.
Ancaman terhadap usaha OPEC tersebut datang dari AS, dimana produksi A.S, yang telah meningkat sebesar 15 persen sejak pertengahan 2016 ke rekor 9,66 juta bpd.
Peningkatan produksi telah mengubah Amerika Serikat dari pengimpor minyak mentah terbesar di dunia menjadi eksportir yang signifikan, dengan produksi sekarang kedua setelah Rusia dan Arab Saudi.
Selasti Panjaitan/VMN/VBN/Senior Analyst Stocks-Vibiz Research Center Editor : Asido Situmorang



