(Vibiznews – Commodity) – Ditengah lonjakan harga minyak mentah perdagagangan awal pekan hari Senin (3/12), dikejutkan oleh berita pengunduran diri salah satu negara anggota OPEC yaitu Qatar. Pemerintah Qatar mengumumkan rencana untuk menarik diri dari OPEC hanya beberapa hari sebelum pertemuan penting kartel produsen minyak dunia dan sekutu-sekutunya tersebut.
Berbicara pada konferensi pers, Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi mengatakan, negara itu akan menarik diri dari OPEC pada 1 Januari 2019, mengakhiri keanggotaan yang telah berdiri selama lebih dari setengah abad. Keputusan itu muncul setelah Qatar meninjau cara-cara di mana ia dapat meningkatkan kedudukan globalnya dan merencanakan strategi jangka panjangnya.
Jika dilihat posisi keanggotaan Qatar, negeri ini merupakan salah satu produsen minyak terkecil OPEC, terutama jika dibandingkan dengan anggota lain seperti pemimpin de facto Saudi Arabia, Qatar adalah salah satu penghasil gas alam cair (LNG) terbesar di dunia. Pengumuman pemerintah Qatar tersebut merupakan perubahan teknis dan strategis, dan tidak bermotif politik.
Sejak Juni 2017, raja OPEC Arab Saudi – bersama dengan tiga negara Arab lainnya – telah memangkas hubungan perdagangan dan transportasi dengan Qatar, menuduh negara itu mendukung terorisme dan saingan regional mereka, Iran. Qatar membantah klaim tersebut, mengatakan boikot itu menghambat kedaulatan nasionalnya.
Qatar resmi menjadi anggota OPEC sejak 1961 dan pertemuan terakhir kartel minyak yang didominasi Timur Tengah tersebut di tahun 2018 akan menjadi yang terakhir bagi Qatar. Merespon pengumuman Qatar tersebut, posisi harga minyak mentah dunia yang sudah rally sejak sesi Asia mulai terpangkas.
Terpantau di pasar komoditas sesi Eropa, harga minyak mentah berjangka jenis Brent yang merupakan harga patokan minyak dunia berada di posisi $ 61,72 per barel . Sementara itu harga minyak mentah berjangka AS atau WTI berada di posisi $ 52,94 .
Jul Allens/ Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting Group Editor: Jul Allens



