(Vibiznews-Commodity) – Diawal perdagangan komoditas sesi Asia Selasa (06/08) rebound setelah kembali tertekan trend perdagangan sebelumnya yang anjlok oleh sentimen meningkatnya ketegangan perang dagang AS-China pasca Presiden Trump mengenakan tarif impor baru bagi China dan sebaliknya dibalas dengan devaluasi mata uang.
Sentimen ini dapat membahayakan permintaan minyak global karena akibat perang yang sudah berlangsung setahun lebih ini melemahkan kondisi pertumbuhan ekonomi negara konsumen minyak.
Namun perdagangan semalam terdapat penggerak positif dari laporan persediaan minyak di Cushing, Oklahoma sebagai pusat penyimpanan dan pusat pengiriman untuk WTI menurut laporan Genscape.
Harga minyak mentah berjangka acuan internasional atau minyak Brent kini bergerak naik 0,77% menjadi $60,23 per barel, perdagangan sebelumnya anjlok 3 persen lebih. Demikian juga harga minyak mentah berjangka AS atau minyak WTI bergerak naik 0,7% menjadi $55,15 per barel, perdagangan sebelumnya anjlok 1,74 persen.
Persediaan minyak di Cushing turun hampir 2,4 juta barel dalam sepekan pada pekan ke-2 Agustus, Diskon WTI untuk Brent menyempit menjadi $5,15 per barel, ini merupakan yang tersempit sejak Juli 2018. Harga kedua tolok ukur minyak mentah ini anjlok lebih dari 7% Kamis lalu ke level terendah dalam sekitar tujuh minggu setelah pengumuman Trump.
Presiden Donald Trump menuduh Cina manipulasi mata uang dalam sebuah posting di Twitter meskipun pemerintahannya telah berulang kali menolak untuk secara resmi menyebut Cina sebagai manipulator mata uang.
“China menurunkan harga mata uang mereka ke level terendah yang hampir bersejarah. Ini disebut ‘manipulasi mata uang.’ Apakah Anda mendengarkan Federal Reserve? Ini adalah pelanggaran besar yang akan sangat melemahkan Tiongkok dari waktu ke waktu! ” ungkap Trump dallam postingan twitternya.
Untuk perdagangan selanjutnya secara teknikal menurut analyst Vibiz research Center, harga minyak WTI diperkirakan berusaha mendaki ke posisi resisten 55.30 – 56.75. Namun jika terjadi pergerakan sebaliknya akan turun ke posisi support 53.50 – 52.33.
Jul Allens/ Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting Editor: Asido Situmorang



