(Vibiznews – Bonds) – Imbal hasil (yield) obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau terus menanjak 35 bps, di hari ketujuhnya, pada perdagangan Jumat pagi ini (20/3) menjadi 8,269%. Pergerakan ini menunjukkan harga obligasi berlanjut terkoreksi karena banyak investor sedang dihadapkan pada masalah cash flow.
Tekanan harga besar-besaran atas bursa saham global dan regional, nampaknya juga ikut menekan perdagangan obligasi yang mengandalkan volatilitas rendah ini.
Sebagaimana diketahui, yield menjadi acuan keuntungan investor di pasar surat utang dibanding harga karena itu sudah mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka. Kenaikan yield menunjukkan turunnya harga obligasi pemerintah karena gerak antara yield dan harga obligasi berlawanan. Harga obligasi yang turun mencerminkan risiko tinggi, maka yield akan naik. Sebaliknya, yield turun mencerminkan harga obligasi yang naik.
Sementara itu, yields obligasi global negara maju cenderung turun dalam ekspektasi akan adanya intervensi lebih lanjut bank sentral global. Obligasi 3 tahun pemerintah Australia terpantau turun 5bps ke 0,3%.
Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting
Editor: Asido



