(Vibiznews – Bonds & Mutual Fund) – Hasil simposium Jackson Hole di Wyoming, Amerika Serikat, akhir pekan lalu, membuat investor lebih lega. Chairman The Federal Reserve Jerome Powell mempertegas indikasi akan menarik kebijakan moneter longgar alias quantitative easing di tahun ini. Tapi, The Fed menegaskan tapering off ini tidak akan langsung diikuti kenaikan suku bunga.
Seperti diketahui, tapering off merupakan kebijakan The Fed mengurangi pembelian US Treasury dan mortgage-backed-securities. Hal ini dilakukan ketika perekonomian AS sudah membaik, serta inflasi dan pasar tenaga kerja sudah memuaskan.
Perlu diketahui kebijakan The Fed mempertahankan suku bunga rendah dapat membawa angin segar ke pasar keuangan. Pasalnya, aset berisiko seperti saham dan komoditas berpotensi naik lebih tinggi.
Mari kita simak poin- poin penting dari Jackson Hole Symposium
Jackson Hole Symposium
• Ketua The Federal Reserve Jerome Powell mengatakan The Fed dapat mulai mengurangi pembelian obligasi bulanan tahun ini, meskipun tidak akan terburu-buru untuk menaikkan suku bunga.
• The Fed tidak memberikan rentang waktu khusus dalam mengurangi pembelian obligasi sebesar US$ 120 miliar per bulan yang menjadi program stimulus terhadap krisis Covid-19.
• Kenaikan suku bunga acuan akan berdasarkan kembalinya perekonomian ke tingkat ketenagakerjaan maksimum dan kembalinya inflasi ke level 2% sesuai dengan target The Fed.
• Pertumbuhan ekonomi AS sejauh ini dinilai berada di jalur yang tepat dan diproyeksikan akan kuat di masa yang akan datang.
• The Fed akan hati-hati dalam menilai data ekonomi di tengah risiko Covid-19 varian delta yang dapat mempengaruhi perbaikan ekonomi AS.
Sumber: Bloomberg
Para analis menilai investor memandang positif pernyataan Jerome Powell tersebut, karena ternyata rencana tapering tidak sedrastis yang dikhawatirkan pelaku pasar. The Fed akan melakukan tapering off secara bertahap. Sehingga, dampaknya tidak akan separah tapering di 2013 silam.
Bagaimana dampaknya pada pasar obligasi?
Hasil simposium Jackson Hole ternyata direspon positif oleh pelaku pasar, hal ini berdampak pada tingginya demand yang disampaikan investor pada lelang SUN hari Selasa (31/8).
Berdasarkan data DJPPR, total penawaran yang masuk pada lelang kali ini mencapai sebesar Rp 116,1 triliun. Jumlah tersebut lebih tinggi jika dibandingkan lelang SUN yang digelar sebelumnya, yakni Rabu (18/8) sebesar Rp 77,07 triliun.
Bahkan, jumlah penawaran yang masuk pada lelang hari Selasa (31/8) juga merupakan yang tertinggi pada tahun ini serta tertinggi kedua sepanjang sejarah lelang SUN.
Selain jumlah penawaran yang tinggi, pada lelang kali ini tercatat partisipasi investor asing juga meningkat dibandingkan dengan lelang sebelumnya, yaitu sebesar 19,2% dari total bids. Investor asing pun memburu seri FR0091 dan FR0092. Kedua seri ini menjadi seri yang paling diburu pada lelang kali ini dengan persentase 68,2% dari total incoming bids.
Apa yang menyebabkan baik investor lokal maupun investor asing memburu SUN?
1. Faktor fundamental SBN yang solid yang tercermin dari real yield SBN yang masih sangat tinggi dibanding peers, selisih dengan US Treasury yang juga masih cukup tinggi jika dibandingkan secara historis menjadi faktor penting yang menjadi tolok ukur investor memburu SBN. Investor asing memang hanya menunggu momentum yang pas untuk masuk. Jadi ketika seluruh faktor memang mendukung, investor asing pun menambah posisi mereka. Hal ini bisa terlihat dari data BI sepekan yang lalu yaitu data transaksi 23-26 Agustus 2021, nonresiden di pasar keuangan domestik beli neto Rp7,67 triliun terdiri dari beli neto di pasar SBN sebesar Rp7,18 triliun dan beli neto di pasar saham sebesar Rp0,49 triliun. Hal ini menunjukkan investor asing terus memburu SBN.
2. Likuiditas di dalam negeri yang masih tinggi.
Bagaimana pengaruhnya dengan obligasi korporasi?
Sentimen positif yang tengah terjadi di pasar SBN akan ikut memberi dampak positif ke pasar obligasi korporasi. Obligasi korporasi tengah berada dalam tren positif sepanjang tahun ini. Merujuk data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), kinerja obligasi korporasi yang tercermin dari INDOBex Corporate Total Return telah tumbuh 7,24% secara ytd. Return ini mengungguli kinerja obligasi negara yang tercermin dari INDOBeX Government Total Return yang hanya tumbuh 4,06%.
Kondisi pasar obligasi korporasi jika kita lihat dari sisi peminat masih cukup banyak. Sementara secara kinerja, obligasi korporasi juga berhasil outperform obligasi pemerintah dari sisi total return secara year to date. Jika dilihat dari sisi pergerakan harga lebih stabil dan tingkat kupon memang lebih tinggi dari obligasi negara. Tapi tantangannya sisi supply obligasi korporasi masih terbatas, jadi ketika likuiditas meningkat dan peminatnya juga naik, sayang sisi supply belum memadai.
Oleh karena itu, kondisi pasar obligasi negara yang membaik diharapkan bisa menjadi katalis positif bagi obligasi korporasi. Saat ini kondisi fundamental mulai membaik bagi para perusahaan. Selain itu dengan yield yang bergerak turun, biaya penerbitan obligasi korporasi jauh bisa lebih murah dan kompetitif. Sehingga mencari dana lewat penerbitan obligasi bisa jadi opsi yang menarik.
Analis Vibiz Research memperkirakan momentum baik di pasar obligasi korporasi ini akan terjadi setidaknya sampai akhir Oktober. Hal ini karena adanya kebijakan tapering yang berlaku pada November atau Desember. Oleh karena itu, sebelum terjadinya tapering, yield masih akan bergerak turun dan kupon pun akan mengikuti pergerakan yield. Jadi perusahaan bisa diuntungkan untuk menerbitkan obligasi karena kondisi yang akan kompetitif, sementara investor akan diuntungkan dengan potensi peningkatan supply yang membuat opsi pilihan lebih variative.
Kesimpulannya investor akan tetap memilih obligasi korporasi untuk mengoptimalkan return sehingga dari segi prospek masih akan menarik. Hanya saja, investor sebaiknya tetap selektif dalam memilih obligasi korporasi. Sektor yang minim terdampak pandemi, seperti telekomunikasi, logistik yang berkaitan dengan marketplace, hingga kesehatan dinilai jadi yang layak untuk dijadikan pilihan.
Belinda Kosasih/ Partner of Banking Business Services/Vibiz Consulting
Editor : Asido Situmorang



