(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada minggu lalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:
- Pasar keuangan domestik lanjut dalam tekanan eksternal, dengan rupiah tergelincir ke posisi 3,5 tahun terendahnya.
- Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan BI7DRR sebesar 25 bps menjadi 6,00%.
- Pasar domestik tertekan dengan capital outflow sekitar Rp5,4 triliun dalam sepekannya.
- Sentimen negatif eksternal terpicu di antarnya oleh naiknya yields US Treasury yang menekan bursa saham dan menarik dana balik ke pasar uang Amerika.
Minggu berikutnya, isyu prospek ekonomi dalam dan luar negeri, akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 23-27 October 2023.
===
Minggu lalu IHSG di pasar modal Indonesia terpantau melemah cukup signifikan, masuk ke level 3,5 bulan terendahnya lalu berupaya bangkit di akhir pekan, di tengah investor asing lakukan net selling pada sejumlah saham bank besar. Sementara itu, bursa kawasan Asia pada umumnya bias melemah. Secara mingguan IHSG ditutup melemah 1,12%, atau 77,612 poin, ke level 6.849,168. Untuk minggu berikutnya (23-27 Oktober 2023), IHSG kemungkinan akan berupaya bangkit dari oversold-nya namun keseluruhannya masih bearish, dengan mencermati sentimen bursa regional sepekan depan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance di level 6.986 dan 6.993. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 6.803, dan bila tembus ke level 6.783.
Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan lalu terkoreksi tajam di pekan ketujuhnya, dan berada di sekitar level 3,5 tahun terendahnya, meskipun secara mingguan dollar terkoreksi dari rally-nya oleh pernyataan the Fed yang dovish sementara, ditambah capital outflow di pasar SBN sekitar Rp3,5 triliun, sehingga rupiah secara mingguannya berakhir melemah signifikan 1,14% ke level Rp 15.860. Sementara, dollar global kembali dalam koreksi. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan akan terkoreksi meski masih uptrend, atau kemungkinan rupiah rebound di oversold-nya ini walau masih tetap dalam tekanan, dalam range antara resistance di level Rp15.889 dan Rp16.240, sementara support di level Rp15.667 dan Rp15.580.
Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau berakhir turun secara mingguannya, terlihat dari pergerakan naik yield obligasi dan berakhir ke 7,164% pada akhir pekan. Ini terjadi di tengah berlanjutnya aksi jual investor asing di SBN. Sementara yields US Treasury menanjak secara mingguannya ke level 16 tahun tertingginya.
===
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 Oktober 2023 memutuskan untuk menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,75%.
Kenaikan ini untuk memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak meningkat tingginya ketidakpastian global serta sebagai langkah pre-emptive dan forward looking untuk memitigasi dampaknya terhadap inflasi barang impor (imported inflation), sehingga inflasi tetap terkendali dalam sasaran 3,0±1% pada 2023 dan 2,5±1% pada 2024.
Bank Indonesia menyebutkan bahwa perekonomian Indonesia diprakirakan tetap tumbuh baik dan berdaya tahan terhadap dampak rambatan global. Pada triwulan III 2023, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh konsumsi swasta, termasuk konsumsi generasi muda, yang meningkat sejalan peningkatan konsumsi di sektor jasa dan keyakinan konsumen yang masih tinggi. Pertumbuhan investasi tetap baik didorong berlanjutnya penyelesaian Proyek Strategis Nasional (PSN).
Dengan perkembangan tersebut, BI menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia diprakirakan dalam kisaran 4,5-5,3% pada 2023 dan meningkat pada 2024.
Menurut rilis BPS, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus sebesar USD3,42 miliar pada bulan September 2023, lebih tinggi dibandingkan dengan surplus pada Agustus sebesar USD3,12 miliar, atau merupakan surplus selama 41 bulan berturut-turut. Secara kumulatif Januari – September 2023, surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai USD27,75 miliar.
Berdasarkan data transaksi 16 – 19 Oktober 2023, nonresiden di pasar keuangan domestik tercatat jual neto Rp5,36 triliun terdiri dari jual neto Rp3,45 triliun di pasar SBN, jual neto Rp3,01 triliun di pasar saham, dan beli neto Rp1,10 triliun di SRBI.
===
Kalau para pembaca memerhatikan, maka terlihat isyu siklus pengetatan moneter dan kenaikan suku bunga dari Amerika kerap begitu mewarnai dan menggerakkan pasar, termasuk pasar dalam negeri. Demikian pula gejolak geopolitik seperti di Timur Tengah dan Eropa Timur bisa demikian menggerakkan pasar mata uang dan pasar modalnya. Inilah yang merupakan faktor major fundamental yang menjadi penggerak utama pasar.
Isyu perekonomian di Amerika, China, dan negara maju lainnya akan terus berlangsung dengan berbagai dinamikanya, serta juga kerap kali sampai kepada aspek politiknya. Kita tetap akan melihat sejumlah isyu yang menggerakkan pasar lainnya.
Vibiznews.com akan menjadi partner Anda sebagai investor dalam memantau tiap-tiap pergerakan pasar secara updated dan detail. Terima kasih telah bersama kami karena kami ada demi sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!
Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting



