(Vibiznews-Forex) – Poundsterling dalam pair GBPUSD rebound dari posisi terendah dalam 11 minggu pada perdagangan forex Eropa hari Selasa (3/3/2026) setelah setelah aksi jual yang cukup besar imbas konflik militer di Timur Tengah.
Pair GBPUSD sempat merosot ke level terendah 11 minggu pada perdagangan awal pekan didorong oleh penguatan dolar AS sebagai safe haven karena konflik di Iran memicu lonjakan ke aset safe-haven.
Lihat: Imbal Hasil Treasury AS Senin Naik Merespon Ketegangan Perang di Timur Tengah
Tekanan pada poundsterling diperparah oleh meningkatnya ketidakpastian politik Inggris menyusul kekalahan mengejutkan Partai Buruh di Gorton dan Denton, sebuah kursi yang mereka menangkan dengan mudah dalam pemilihan umum 2024.
Secara fundamental posisi poundsterling juga masih terus dibebani oleh proyeksi penurunan suku bunga BOE merespon laporan ekonomi terbaru yang pesimis.
Data pasar tenaga kerja Inggris telah melemah, dengan pengangguran meningkat menjadi 5,2% dan pertumbuhan upah melambat menjadi 4,2%, yang membuat pasar cenderung pada pemotongan suku bunga pada bulan Maret meskipun ada sinyal yang beragam dari para pembuat kebijakan.
Secara teknikal, pair konsolidasi di area resisten hariannya dan menurut analyst Vibiz Research Center pair berpotensi mendaki ke area resisten selanjutnya.
Kini pair berada di posisi 1.3453 yang melaju menuju 1.3478, jika tembus lanjut ke resisten kuatnya di R1.
Namun jika tidak sampai tembus 1.3490 akan berbalik arah dan berusaha turun menuju posisi 1.3399. Dan jika tembus akan lanjut turun menuju support lemahnya di S3.
| R3 | R2 | R1 | Pivot | S1 | S2 | S3 |
| 1,3612 | 1,3535 | 1,3468 | 1.3390 | 1.3324 | 1.3250 | 1.31786 |



