(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada seminggu berlalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:
- Pasar keuangan di minggu lalu cenderung bearish.
- Inflasi Februari dilaporkan BPS naik ke 4,76% (yoy).
- Fitch Ratings merevisi outlook utang RI menjadi negatif dari stabil.
- PMI Manufaktur S&P Indonesia dirilis naik –ekspansi—tertinggi dalam 2 tahun.
- Sentimen global saat ini sekitar geopolitik konflik Timur Tengah serta harga minyak dunia yang melambung.
- Data ekonomi yang diperhatikan pasar pekan mendatang adalah rilis keyakinan konsumen pada hari Senin, serta data penjualan ritel pada hari Jumat nanti.
Minggu berikutnya, isyu prospek ekonomi dalam dan luar negeri, akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 9-13 March 2026.
===
Minggu yang baru lewat IHSG di pasar modal Indonesia terpantau berlanjut bearish, ditutup ke level 7 bulan terendahnya di bawah saat IHSG ditekan isyu MSCI, dengan investor asing gencar melakukan aksi jual saham-saham bank besar. Sementara itu, bursa kawasan Asia pada seminggu ini umumnya melemah, di tengah konflik perang Iran yang terus berlangsung dan melejitnya harga minyak dunia. Secara mingguan IHSG ditutup melemah tajam 7,89%, atau 649,798 poin, ke level 7.586,687.
Untuk minggu berikutnya (9-13 Maret 2026), IHSG kemungkinan akan berupaya rebound karena sudah oversold namun masih rentan koreksi lanjutan, dengan mencermati sentimen bursa regional sepekan depan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance di level level level 8.134 dan 8.245. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 7,448 dan bila tembus ke level 7,344.
Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan berlalu berakhir tertekan, ditutup di level 6 minggu terendahnya oleh penguatan dollar global di antara konflik Timur Tengah yang memanas. Rupiah secara mingguannya berakhir merosot 145 poin atau 0,86% ke level Rp 16.910 per USD. Sementara, dollar global terpantau bertahan di sekitar hampir 7 minggu tertingginya, minggu terkuatnya dalam setahun terakhir, di tengah naiknya permintaan sebagai safe haven.
Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan masih akan uptrend, atau kemungkinan rupiah lanjut bias terkoreksi, dalam range antara resistance di level Rp16.928 dan Rp16.976, sementara support di level Rp16.774 dan Rp16.705.
Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau turun secara mingguannya, terlihat dari pergerakan naik yield obligasi dan berakhir ke level 6,588% pada akhir pekan. Sementara yields US Treasury terpantau menanjak naik.
===
BPS melaporkan, pada Februari 2026 terjadi inflasi (y-on-y) sebesar 4,76% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,50. Sementara itu, tingkat inflasi (m-to-m) Februari 2026 sebesar 0,68%.
S&P Global Market merilis data Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia mencapai 53,8 poin yang merupakan tertinggi dalam waktu hampir dua tahun terakhir sejak Maret 2024. PMI manufaktur pada bulan Februari naik secara bulanan yang sebelumnya tercatat 52,6 poin, serta menandakan ekspansi sektor industri yang semakin kuat pada awal tahun ini.
Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings merevisi prospek (outlook) peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Meski demikian, peringkat kredit jangka panjang mata uang asing (Long-Term Foreign Currency Issuer Default Rating/IDR) tetap di level BBB.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan sebesar US$0,95 miliar pada Januari 2026. Hal ini menandai surplus yang telah berlanjut selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 tetap tinggi sebesar 151,9 miliar dolar AS, meskipun menurun dibandingkan posisi pada akhir Januari 2026 sebesar 154,6 miliar dolar AS. Perkembangan tersebut antara lain dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sebagai respons Bank Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi.
===
Para pembaca barangkali telah melihat bahwa berlanjutnya arah kebijakan penurunan suku bunga dari the Federal Reserve telah diikuti bank sentral global, begitu kerap mewarnai dan menggerakkan pasar. Kadang itu mendatangkan bearish pasar, kadang mendorong rally-nya. Isyu kapan lagi pemangkasan suku bunga di antara ketidakpastian tinggi ekonomi global merupakan satu major fundamental yang menjadi penggerak utama pasar. Bahkan sekarang telah muncul prediksi yang menaikkan suku bunga. Pergolakan ekonomi dunia nampaknya masih akan terus berlangsung dengan berbagai dinamikanya. Kita juga melihat isyu lain yang kuat menggerakkan pasar, terutama sekarang tensi geopolitik perang di kawasan Timur Tengah.
Vibiznews.com akan menjadi partner Anda sebagai investor dalam memantau tiap-tiap pergerakan pasar secara updated dan detail. Baiklah, terima kasih karena telah bersama kami karena kami ada demi sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!
Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting



