(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada seminggu berlalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:
- Pasar keuangan di minggu lalu –sebelum libur panjang– berlanjut bearish di tengah berlanjutnya konflik Timur Tengah.
- BI merilis BI Rate tetap pada level 4,75%.
- Utang Luar Negeri Januari tercatat USD434,7 miliar atau tumbuh 1,7% (yoy).
- Sentimen global saat ini masih sekitar konflik Timur Tengah termasuk prospek de-eskalasinya hari-hari ini, volatilitas harga minyak mentah dunia, serta sikap hawkish bank sentral global.
- Data ekonomi yang diperhatikan pasar pekan mendatang ini adalah rilis jumlah uang beredar pada hari Jumat nanti.
Minggu berikutnya, isyu prospek ekonomi dalam dan luar negeri, akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 25-27 March 2026.
===
Minggu yang lewat –sebelum libur panjang– IHSG di pasar modal Indonesia terpantau masih bearish di pekan keempat, sempat di 8 bulan terendahnya lalu bangkit di hari terakhir, ditarik sentimen negatif dari bursa global dan regional di antara perang Timur Tengah yang memicu volatilitas dan melejitnya harga minyak mentah dunia. Sementara itu, bursa kawasan Asia pada seminggu ini umumnya melemah, di tengah konflik perang Iran yang berkepanjangan dan ancaman inflasi global yang dipicu sektor energi. Secara mingguan IHSG dalam dua hari pasar ditutup melemah 0,43%, atau 30,373 poin, ke level 7.106,839.
Untuk minggu berikutnya (25-27 Maret 2026) –minggu pendek setelah libur panjang Nyepi dan Lebaran– IHSG kemungkinan masih bias negatif oleh sentimen tekanan jual di kawasan semingguan ini, namun akan sempat rebound mengingat hari ini pasar Asia partial rebound oleh meredanya konflik, dengan mencermati sentimen bursa regional sepekan depan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance di level 7.765 dan 8.098. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 6,907 dan bila tembus ke level 6,838.
Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan berlalu berakhir lanjut bearish, dan mencapai level rekor terendahnya sepanjang masa, sekalipun rally dollar global sempat berbalik arah koreksi. Rupiah secara mingguannya berakhir melemah 40 poin atau 0,24% ke level Rp 16.980 per USD –masih dalam tren bearish walau di akhir hari pasar yang lalu berupaya bangkit setelah BI Rate dipertahankan di level 4,75%. Sementara, dollar global terpantau sedang terkoreksi dari rally sebelumnya, masuk ke sekitar 2 minggu terendahnya, dipicu lagi perintah Trump untuk menunda serangan ke infrastruktur energi Iran di tengah berjalannya negosiasi, serta berkurangnya permintaan dollar sebagai safe haven.
Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan masih uptrend namun cepat tertahan, atau kemungkinan rupiah bias terkoreksi lalu segera rebound, dalam range antara resistance di level Rp17.020 dan Rp17.100, sementara support di level Rp16.856 dan Rp16.753.
Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau turun secara mingguannya, terlihat dari pergerakan naik yield obligasi dan berakhir ke level 6,847% pada akhir pekan ketiganya. Sementara yields US Treasury terpantau menanjak naik di minggu ketiga.
===
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 16-17 Maret 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%. Keputusan ini untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah serta menjaga pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dalam sasaran 2,5±1%.
BI melihat bahwa perang Timur Tengah sejak akhir Februari 2026 memperburuk kondisi dan prospek perekonomian global. Melonjaknya harga minyak dunia berdampak negatif terhadap rantai pasok perdagangan antarnegara sehingga menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi dunia dan meningkatkan tekanan inflasi global.
Momentum penguatan pertumbuhan ekonomi Indonesia perlu terus dijaga di tengah berlangsungnya perang di Timur Tengah. Untuk itu, sinergi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia serta pemangku kepentingan lainnya makin diperkuat agar dapat menjaga permintaan domestik dan mendukung pertumbuhan ekonomi dalam kisaran 4,9–5,7%.
Bank Indonesia juga melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Januari 2026 tetap terjaga. Posisi ULN Indonesia pada Januari 2026 tercatat sebesar 434,7 miliar dolar AS atau secara tahunan tumbuh 1,7% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada Desember 2025 sebesar 1,8% (yoy). Perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh ULN sektor publik.
===
Dinamika harga instrumen investasi ternyata bergerak begitu aktif, bahkan selama 24 jam dalam 5 sampai 6 hari perdagangan. Termasuk di tengah gejolak global dalam perang Timur Tengah hari-hari ini. Buat banyak investor retail lokal tidak mungkin untuk terus memantau pergerakan harga secara non-stop. Dalam situasi seperti ini, akan terasa manfaat dari online trading system. Dengan sistem investasi ini kita dapat pasang order terlebih dahulu, juga dengan programming yang telah ditentukan sebelumnya. Begitu banyak metode dan teknik untuk trading profit.
Kalau Anda mau belajar lebih jauh, ikuti terus Vibiznews.com. Mari, terus maju bersama Vibiznews.com untuk keuntungan investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!
Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting



