Wall Street Ditutup Lebih Tinggi Karena Turunnya Harga Minyak dan Harapan Gencatan Senjatan Perang Iran

158
wall street

(Vibiznews – Index) – Perdagangan saham Wall Street ditutup lebih tinggi pada hari Kamis dinihari (26/3/2026), karena penurunan harga minyak dan harapan akan potensi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran meskipun ketidakpastian seputar konflik masih berlanjut.

Indeks Dow Jones naik  0,66% dan ditutup pada 46.429,49, S&P 500 naik 0,54% menjadi 6.591,90, dan  Nasdaq naik 0,77% untuk berakhir pada 21.929,83.

Penurunan harga minyak mentah mendukung pasar dan optimisme baru bahwa upaya diplomatik dapat meredakan ketegangan di Timur Tengah. Harga minyak turun seiring munculnya harapan gencatan senjata

Sentimen investor membaik setelah laporan bahwa Amerika Serikat telah menyampaikan proposal kepada Iran yang bertujuan untuk mengakhiri konflik.

Menurut laporan media, rencana tersebut berupa proposal 15 poin yang meningkatkan harapan akan potensi de-eskalasi.

Namun, sinyal yang diterima masih beragam. Media pemerintah Iran mengindikasikan bahwa Teheran akan menolak tawaran gencatan senjata AS dan malah mengusulkan syarat-syaratnya sendiri, termasuk kendali atas Selat Hormuz.

Menteri Luar Negeri Iran juga mencatat bahwa, meskipun proposal sedang ditinjau, pertukaran pesan tidak merupakan negosiasi formal.

Secara sektoral, saham-saham teknologi memberikan dorongan signifikan pada indeks utama Wall Street. Saham Nvidia, Advanced Micro Devices, dan Intel semuanya naik selama sesi perdagangan.

Saham maskapai penerbangan dan kapal pesiar juga menguat, dengan indeks S&P Composite 1500 Passenger Airlines mengungguli pasar secara keseluruhan.

Di antara saham-saham yang bergerak naik, Arm Holdings melonjak setelah meluncurkan chip pusat data AI baru, sementara Robinhood Markets naik setelah pengumuman program pembelian kembali saham senilai $1,5 miliar.

Namun, dengan ketegangan geopolitik yang belum terselesaikan dan kekhawatiran inflasi yang masih ada, pasar tetap sensitif terhadap perkembangan di Timur Tengah. Investor kelihatannya  optimis dengan hati-hati, menyeimbangkan harapan de-eskalasi dengan risiko gangguan lebih lanjut terhadap pasar energi global.