(Vibiznews – Index) – Bursa saham Wall Street kembali angkat ketiga indeks utamanya ke posisi rekor tertinggi setelah awal sesi alami tekanan jual pada perdagangan yang berakhir Jumat dinihari (29/5/2026).
Indeks Wall Street yang berada di wilayah negatif awal sesi, mendapat kekuatan naik kembali ke posisi rekor dengan Nasdaq memimpin pemulihan.
Indeks Nasdaq naik 0,9% menjadi 26.917,47, S&P 500 naik 0,6% menjadi 7.563,63 dan Dow Jones naik tipis 0,1% menjadi 50.668,97.
Kekuatan saham Wall Street meninggalkan posisi terendah di zona merah setelah yang menyatakan bahwa negosiator AS dan Iran telah mencapai kesepakatan mengenai nota kesepahaman (MOU) selama 60 hari.
Mengutip dua pejabat AS dan sumber regional yang terlibat dalam upaya mediasi, Axios mengindikasikan bahwa MOU tersebut akan memperpanjang gencatan senjata dan memulai negosiasi tentang program nuklir Iran.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa Presiden Donald Trump belum memberikan persetujuan akhir, dengan seorang pejabat AS mengatakan bahwa ia membutuhkan beberapa hari untuk mempertimbangkan kesepakatan tersebut.
Kekuatan saham-saham teknologi mendominasi kenaikan juga dari turunnya harga minyak mentah, dengan harga minyak WTI AS naik 0,5% setelah melonjak hingga 4,3%.
Dari laporan ekonomi AS, Departemen Perdagangan merilis laporan yang menunjukkan harga konsumen di AS meningkat sedikit lebih rendah dari yang diperkirakan pada bulan April.
Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) naik 0,4% pada bulan April setelah naik 0,7% pada bulan Maret. Tingkat pertumbuhan tahunan indeks harga PCE meningkat menjadi 3,8% pada bulan April dari 3,5% pada bulan Maret, sesuai dengan perkiraan.
Secara sektoral, saham perangkat lunak dan perangkat keras mengalami kenaikan tajam pada hari itu hingga membuat NYSE Arca Computer Hardware Index melonjak sebesar 3,4% dan NYSE Arca Computer Hardware Index melonjak sebesar 2,9%.
Kekuatan yang signifikan juga terlihat di antara saham-saham bioteknologi dengan NYSE Arca Biotechnology Index melonjak 2,6%.
Sementara itu pergerakan sebaliknya terlihat kembali pada saham jasa minyak dan utilitas yang bergerak turun seiring turunnya harga minyak.








