(Vibiznews – Index) – Harga saham Amerika Serikat di Wall Street cukup bergejolak pada perdagangan yang berakhir Selasa dinihari (12/5/2026) sekalipun ditutup dengan keuntungan moderat.
Indeks Nasdaq dan S&P500 masih dalam penutupan rekor tertinggi dengan masing-masing naik tipis 0,1% menjadi 26.274,13 dan 0,2% menjadi 7.412,84. Sedangkan Dow Jones berada di kisaran tertinggi dalam 3 bulan dengan naik 0,2% menjadi 49.704,47.
Perdagangan yang bergejolak di Wall Street terjadi karena beberapa ketidakpastian tentang prospek jangka pendek pasar setelah penguatan baru-baru ini.
Meskipun investor tetap optimis tentang masa depan pasar saham global, namun ketidakpastian terkait konflik di Timur Tengah masih terus membebani.
Sentimen juga dibebani oleh lonjakan harga minyak mentah AS atau WTI hingga naik 2% lebih setelah Presiden Donald Trump menolak tanggapan Iran terhadap proposal AS untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung berbulan-bulan.
Dari laporan media pemerintah, proposal balasan Iran mencakup tuntutan kompensasi atas kerusakan perang dan pengakuan kedaulatan Republik Islam atas Selat Hormuz.
Trump kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa gencatan senjata AS-Iran berada dalam kondisi kritis di tengah perselisihan yang sedang berlangsung.
Secara sektoral, saham emas melonjak tajam di tengah kenaikan harga logam mulia yang moderat dengan NYSE Arca Gold Bugs Index melonjak 3,7%.
Lonjakan harga minyak mentah juga berkontribusi pada kekuatan signifikan di antara saham produsen minyak dengan lonjakan 2,6% pada Philadelphia Oil Service Index.
Namun pergerakan sebaliknya terlihat pada saham maskapai penerbangan yang turun tajam hingga menekan NYSE Arca Airline Index turun 3,1%.



