Dolar AS Berpotensi Menguat, Pasar Nilai The Fed Akan Lebih Hawkish

86
Dolar AS Mengalami Pelemahan Potensi Valuta Emerging Market Menguat penghasilan

Dolar Amerika Serikat kembali menjadi pusat perhatian pasar global setelah investor mulai memperkirakan mata uang tersebut berpotensi mengalami penguatan lebih besar dalam beberapa bulan mendatang. Perubahan ekspektasi ini terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga energi dan kemungkinan Federal Reserve mengambil sikap kebijakan moneter yang lebih hawkish dari perkiraan sebelumnya.

Selama hampir satu tahun terakhir, dolar AS bergerak dalam rentang perdagangan yang relatif sempit setelah sempat melemah tajam pada paruh pertama tahun lalu. Namun kombinasi kenaikan yield obligasi pemerintah AS, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, dan bertahannya tekanan inflasi kini mulai mengubah sentimen investor terhadap greenback.

Pelaku pasar global menilai dolar memiliki peluang untuk keluar dari fase stagnasi dan kembali memasuki tren penguatan, terutama jika bank sentral AS memberikan sinyal bahwa suku bunga akan tetap tinggi lebih lama.

Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat naik hampir 1,5% sejak akhir Februari, tepat sebelum eskalasi konflik AS-Israel dengan Iran memicu lonjakan harga energi global.

Meski kenaikannya belum terlalu agresif, pergerakan tersebut dinilai penting karena terjadi setelah berbulan-bulan dolar bergerak dalam kisaran sempit yang membuat investor kesulitan menentukan arah pasar.

Saat ini indeks dolar diperdagangkan di sekitar level 99, mendekati area psikologis 101 yang selama setahun terakhir menjadi batas atas rentang perdagangan utama.

Analis pasar mulai melihat adanya potensi “breakout” apabila kombinasi inflasi tinggi dan kenaikan yield terus berlanjut.

Strategist global FX dan suku bunga di Macquarie Group, Thierry Wizman, mengatakan bahwa arah dolar kini sangat dipengaruhi oleh dinamika harga minyak dan ekspektasi kebijakan Federal Reserve.

“Jika harga minyak tetap tinggi dan The Fed memberi sinyal pengetatan kebijakan, dolar bisa menguat lebih lanjut,” ujarnya.

Menurut Wizman, pasar mulai melihat peluang terjadinya penguatan dolar yang lebih signifikan dibanding beberapa bulan terakhir.

“Saya pikir ada peluang terjadinya breakout,” katanya.

Kenaikan Yield Jadi Faktor Utama

Salah satu pendorong utama penguatan dolar saat ini adalah naiknya yield obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Investor global mulai melakukan aksi jual terhadap obligasi Treasury, yang mendorong yield naik dan meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar. Yield yang lebih tinggi pada dasarnya menawarkan potensi imbal hasil lebih besar bagi investor internasional sehingga meningkatkan permintaan terhadap mata uang AS.

Yield Treasury tenor 10 tahun  yang menjadi acuan utama biaya pinjaman global termasuk suku bunga kredit perumahan — tercatat naik sekitar 50 basis poin sejak konflik Iran memanas pada akhir Februari.

Sementara itu, yield obligasi tenor 2 tahun, yang paling sensitif terhadap ekspektasi kebijakan Federal Reserve dan paling diperhatikan trader mata uang, melonjak hampir 70 basis poin.

Kenaikan yield ini menjadi sinyal bahwa pasar mulai memperhitungkan kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari ekspektasi sebelumnya.

Di sisi lain, investor juga melihat bahwa ekonomi Amerika Serikat masih relatif lebih tangguh dibanding kawasan lain dalam menghadapi guncangan harga energi global.

Kondisi ini memberi keuntungan tambahan bagi dolar AS dibanding mata uang utama lainnya seperti euro dan yen Jepang.

“Kami melihat selama data ekonomi masih mendukung spread suku bunga yang lebih menguntungkan dolar dibanding Eropa atau Jepang, maka arah alami dolar adalah terus menguat,” kata Shahab Jalinoos, kepala riset valuta asing G10 di UBS.

Menurutnya, dolar masih memiliki daya tarik besar terutama terhadap mata uang dengan yield rendah seperti yen dan euro.

Perang Iran dan Harga Minyak Ubah Ekspektasi Inflasi

Konflik geopolitik di Timur Tengah kini menjadi salah satu variabel paling menentukan arah pasar keuangan global.

Lonjakan harga minyak akibat ketegangan Iran mendorong investor kembali mengkhawatirkan inflasi, terutama setelah sebelumnya pasar mulai optimistis tekanan harga global akan mereda.

Harga energi yang lebih tinggi berpotensi memengaruhi biaya transportasi, logistik, manufaktur, hingga harga barang konsumsi secara lebih luas.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius bagi investor obligasi karena inflasi yang meningkat akan menggerus nilai riil imbal hasil fixed income.

Akibatnya, investor meminta yield yang lebih tinggi untuk mengkompensasi risiko inflasi yang meningkat.

“Ketika belum terlihat akhir dari krisis ini dan tekanan inflasi mulai tercermin dalam data ekonomi, semakin sulit bagi pasar untuk mengabaikan guncangan awal tersebut,” kata Oliver Shale dari Ruffer Investments.

Pasar juga mencermati kenaikan indikator ekspektasi inflasi jangka panjang berbasis pasar, atau break-even inflation, yang sempat menyentuh level tertinggi tiga tahun di atas 2,5%.

Walaupun beberapa sesi terakhir menunjukkan sedikit penurunan yield setelah muncul harapan pembukaan kembali Selat Hormuz, pasar menilai risiko inflasi masih jauh dari selesai.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur perdagangan energi paling penting di dunia karena sekitar seperlima pasokan minyak global melewati kawasan tersebut setiap hari.

Gangguan sekecil apa pun di wilayah itu dapat langsung memicu lonjakan harga energi internasional.

Investor Mulai Kurangi Posisi Bearish terhadap Dolar

Menariknya, bahkan investor yang selama ini memiliki pandangan negatif terhadap dolar AS mulai mengurangi posisi bearish mereka.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak manajer investasi global memandang dolar menghadapi tantangan struktural jangka panjang, mulai dari besarnya defisit fiskal pemerintah AS hingga valuasi dolar yang dianggap terlalu mahal.

Namun kondisi geopolitik dan ketahanan ekonomi AS kini memaksa banyak investor mengambil pendekatan yang lebih netral.

“Pandangan kami secara umum memang cenderung negatif terhadap dolar, tetapi secara taktis saat ini kami lebih mendekati posisi netral,” ujar Ugo Lancioni, kepala divisi mata uang global di Neuberger Berman.

Perubahan sikap ini menunjukkan bahwa pasar mulai melihat dolar sebagai aset yang relatif lebih aman di tengah ketidakpastian global yang meningkat.

Selain berstatus sebagai mata uang cadangan utama dunia, dolar juga menjadi alat transaksi utama dalam perdagangan minyak dan gas global. Hal itu memberikan dukungan alami terhadap permintaan greenback ketika ketegangan geopolitik meningkat.

Fokus Pasar Kini Tertuju ke The Fed

Perhatian investor kini tertuju pada arah kebijakan Federal Reserve dalam beberapa bulan mendatang.

Ketua baru The Fed, Kevin Warsh, sebelumnya diperkirakan akan lebih mendukung kebijakan pelonggaran moneter dan membuka jalan bagi penurunan suku bunga.

Namun meningkatnya tekanan inflasi membuat ekspektasi tersebut mulai berubah drastis.

Pasar kini memperkirakan The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kebijakan yang lebih hawkish apabila tekanan harga terus meningkat.

“Pandangan dasar saya saat ini adalah The Fed kemungkinan akan bergerak ke arah yang lebih hawkish dalam beberapa pekan ke depan,” kata Wizman dari Macquarie.

Pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) berikutnya yang dijadwalkan pada 16–17 Juni kini menjadi fokus utama investor global.

Setiap sinyal dari The Fed mengenai arah suku bunga akan sangat menentukan arah dolar, pasar obligasi, saham global, hingga arus modal internasional.

Jika The Fed menegaskan kekhawatirannya terhadap inflasi dan mempertahankan nada hawkish, maka dolar berpotensi mendapat dorongan tambahan.

Sebaliknya, jika konflik Timur Tengah mulai mereda dan harga minyak kembali stabil, tekanan inflasi dapat berkurang sehingga ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga mungkin kembali muncul.

Risiko Geopolitik Tetap Jadi Faktor Penentu

Meski prospek jangka pendek dolar terlihat lebih kuat, investor tetap menilai perkembangan geopolitik sebagai faktor yang paling sulit diprediksi.

Pasar saat ini masih sangat sensitif terhadap setiap perkembangan terkait Iran, Selat Hormuz, dan stabilitas Timur Tengah secara keseluruhan.

Jika tercapai kesepakatan diplomatik yang mampu menurunkan ketegangan dan memastikan kelancaran pasokan energi global, maka permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven dapat mulai melemah.

Namun selama risiko geopolitik masih tinggi dan inflasi belum benar-benar terkendali, investor cenderung tetap mempertahankan eksposur terhadap dolar AS.

“Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana perkembangan geopolitik ke depan, tetapi menurut kami jalur dengan resistensi paling kecil saat ini adalah penguatan dolar terhadap mata uang ber-yield rendah seperti yen dan euro,” ujar Jalinoos dari UBS.

Bagi pasar global, penguatan dolar memiliki implikasi yang sangat luas.

Dolar yang lebih kuat dapat menekan mata uang negara berkembang, memperketat kondisi likuiditas global, serta meningkatkan tekanan terhadap negara-negara dengan utang berbasis dolar.

Di sisi lain, penguatan dolar juga dapat mengubah arah arus investasi global karena investor cenderung kembali masuk ke aset-aset Amerika Serikat yang menawarkan yield lebih tinggi dan dianggap lebih aman.

Dengan kombinasi inflasi yang masih tinggi, ketidakpastian geopolitik, dan perubahan ekspektasi kebijakan The Fed, pasar kini mulai bersiap menghadapi fase baru penguatan dolar yang berpotensi menjadi tema besar di pasar keuangan global pada paruh kedua tahun ini.