(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada seminggu berlalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:
- Pasar keuangan di minggu lalu fluktuatif terbatas, pada fase konsolidasi.
- Bank Indonesia mempertahankan BI Rate pada level 5,75%.
- BI memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 dalam kisaran 4,9–5,7%.
- Survei Perbankan BI menunjukkan penyaluran kredit baru triwulan II meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya.
- Sentimen global saat ini masih sekitar tensi geopolitik Timur Tengah, gejolak harga minyak dunia, serta ancaman tekanan inflasi global.
- Data ekonomi yang diperhatikan pasar pekan mendatang ini untuk domestik terbatas, karenanya pasar mencermati data global, di antaranya adalah rilis kebijakan suku bunga the Fed pada hari Kamis dini hari; kebijakan suku bunga BOE, serta GDP dan inflasi PCE Amerika pada Kamis malam nanti.
Minggu berikutnya, isyu prospek ekonomi dalam dan luar negeri, akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 27-31 July 2026.
===
Minggu yang baru lewat IHSG di pasar modal Indonesia terpantau rally di pekan ketiganya, walau lebih fluktuatif, sempat mencapai level 5 minggu tertingginya lalu terkoreksi, diseret koreksi sejumlah saham perbankan big-caps. Sementara itu, bursa kawasan Asia pada seminggu ini umumnya mixed bias menguat dengan pergerakan fluktuatif di tengah panasnya tensi geopolitik Timur Tengah. Secara mingguan IHSG ditutup menguat terbatas 0,34%, atau 20,895 poin, ke level 6.196,430.
Untuk minggu berikutnya (27-31 Juli 2026), IHSG kemungkinan masih diincar profit taking dan lebih konsolidatif, dengan mencermati sentimen bursa regional sepekan depan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance di level 6.460 dan 6.631. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 6,002 dan bila tembus ke level 5,839.
Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan berlalu fluktuatif dan melemah terbatas, sempat mencapai level sebulan tertingginya, lalu terkoreksi, di antara keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Rupiah secara mingguannya berakhir melemah 45 poin atau 0,25% ke level Rp17.935 per USD. Sementara, dollar global rally bertahap ke level sebulan terkuatnya oleh melajunya harga minyak mentah ke atas $100 karena panasnya konflik AS-Iran, yang dapat meningkatkan tekanan inflasi global serta kemungkinan kenaikan suku bunga the Fed segera dalam tahun ini.
Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan masih bisa naik dan sideways, atau rupiah kemungkinan terkoreksi dan berkonsolidasi, dalam range antara resistance di level Rp18.126 dan Rp18.180, sementara support di level Rp17.845 dan Rp17.690.
Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau turun secara mingguannya, terlihat dari pergerakan naik yield obligasi di pekan keempat dan berakhir ke level 7,374%. Sementara yields US Treasury terpantau menguat.
===
Hasil Survei Perbankan Bank Indonesia menunjukkan penyaluran kredit baru pada triwulan II 2026 meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Kondisi ini tecermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kredit baru sebesar 93,08%, lebih tinggi dibandingkan SBT 38,74% pada triwulan sebelumnya.
Sementara itu, perbankan lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit baru di triwulan II 2026 dibandingkan triwulan I 2026, yang tecermin dari Indeks Lending Standard (ILS) positif sebesar 1,03.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 21-22 Juli 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%.
Bank Indonesia merilis, di tengah ketidakpastian global kembali meningkat pasca re-eskalasi intensitas perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada awal Juli 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga baik ditopang oleh permintaan domestik. Perkembangan pada triwulan II 2026 menunjukkan konsumsi Pemerintah tumbuh tinggi ditopang berlanjutnya realisasi program-program prioritas serta percepatan belanja Pemerintah.
Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 berada dalam kisaran 4,9–5,7%.
===
Pembaca setia, perhatikanlah chart pergerakan harga asset investasi. Setelah periode rally pasar, tiba juga saat untuk aksi profit taking. Investor akan selalu mencari dan menunggu momentum demikian. Itu yang sebagian pelaku pasar lakukan belakangan ini. Dengan jalan itulah para fund manager global telah mereguk keuntungan besar mereka.
Anda ingin sukses investasi? Siapa yang tidak mau, bukan? Ikuti cara para fund manager berinvestasi mengikuti gelombang trend yang ada. Anda pun bisa sukses demikian. Simak terus karenanya vibiznews.com, website investasi favorit. Kembali, salam sukses bagi Anda, pembaca setia Vibiznews!
Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting






