Pasar Keuangan Bearish, Bank Sentral Global Cenderung Hawkish — Domestic Market Outlook, 28 Sep – 2 Oct 2026

80

(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada seminggu berlalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:

  • Pasar keuangan di minggu lalu cenderung bearish, terkoreksi ke area hampir 2 bulan lalu.
  • Bank Indonesia mempertahankan BI rate di level 5,75%, sesuai estimasi pasar.
  • Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter.
  • Sentimen global saat ini masih sekitar tensi geopolitik Timur Tengah dan harga mintak mentah dunia, serta arah kenaikan suku bunga global.
  • Data ekonomi yang diperhatikan pasar pekan mendatang ini adalah rilis inflasi IHK September, neraca perdagangan Agustus, dan S&P Global Manufacturing PMI September pada hari Kamis nanti.

Minggu berikutnya, isyu prospek ekonomi dalam dan luar negeri, akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 28 September – 2 October 2026.

===

Minggu yang baru lewat IHSG di pasar modal Indonesia terpantau terkoreksi tajam di pekan ketiganya ke level 7,5 minggu terendahnya, ditarik penurunan di antaranya sejumlah saham bank besar. Sementara itu, bursa kawasan Asia pada seminggu ini umumnya mixed dan fluktuatif di tengah harga minyak mentah dunia yang masih volatile. Secara mingguan IHSG ditutup melemah signifikan 3,11%, atau 200,267 poin, ke level 6.241,892.

Untuk minggu berikutnya (28 September – 2 Oktober 2026), IHSG kemungkinan akan berupaya rebound di oversold area walau masih cenderung bearish, dengan mencermati sentimen bursa regional sepekan depan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance di level 6.451 dan 6.553. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 6,201 dan bila tembus ke level 6,029.

 

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan berlalu bergerak melemah di minggu keduanya menyentuh area 7 minggu terendahnya, di antara penguatan dollar global serta BI mempertahankan BI Rate pada level 5,75%, sesuai estimasi pasar. Rupiah secara mingguannya berakhir melemah 150 poin atau 0,85% ke level Rp17.890 per USD. Sementara, dollar global sempat mencapai 2 bulan tertingginya lalu agak terkoreksi di hari terakhir di antara naik tingginya yields U.S. Treasury dan sentimen the Fed akan lebih hawkish.

Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan akan berbalik pendek namun tetap uptrend, atau rupiah kemungkinan mencoba bangkit tetapi masih dalam tekanan bertahap, dalam range antara resistance di level Rp17.932 dan Rp18.053, sementara support di level Rp17.730 dan Rp17.605.

 

Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau naik secara mingguannya, terlihat dari pergerakan turun yields obligasi dan berakhir ke level 7,083%. Sementara yields US Treasury terpantau rally kuat di pekan keempatnya.

===

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 September 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%.

Keputusan ini tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat guna mendukung pencapaian sasaran inflasi sebesar 2,5±1% pada tahun 2026 dan 2027 serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

 

Menurut Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga baik dan perlu terus didorong dengan mengoptimalkan berbagai sumber pertumbuhan ekonomi.

Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 berada dalam kisaran 4,9–5,7%.

 

Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Komitmen disampaikan pada rapat koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia tanggal 24 September 2026 di Bank Indonesia, Jakarta.

===

Segera menuju kepada kuartal terakhir tahun ini, kita mendapati bahwa tahun 2026 merupakan tahun yang penuh gejolak pasar. Di tengah mulai berjalannya kebijakan pengetatan moneter global, serta tensi geopolitik Timur Tengah yang terus panas dengan harga minyak mentah dunia yang tinggi. Sementara itu, Amerika, Eropa dan beberapa negara maju lainnya berada dalam ketidakpastian prospek ekonomi ke depannya. Harapan baru bagi kita bukanlah tenangnya pasar. Bukan, itu jarang pernah terjadi, di samping pasar jadi tidak menarik lagi dalam keserbatenangannya.

Harapan itu ada pada penguasaan pengetahuan dinamika pasar yang semakin baik. Untuk hal ini, teman setia investasi Anda siapa lagi kalau bukan vibiznews.com? Perkenankan kami sampaikan terima kasih bagi Anda semuanya, pembaca setia Vibiznews!

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting