Inflasi AS Naik Lagi, Pasar Waspadai The Fed

171
Ekonomi Amerika Serikat
Statue of Liberty in New York City on white background, USA

Kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah diperkirakan mendorong inflasi Amerika Serikat ke level tertinggi dalam tiga tahun. Kondisi ini berpotensi mengubah arah kebijakan Federal Reserve sekaligus menjadi tantangan politik bagi Presiden Donald Trump menjelang pemilu paruh waktu.

Perhatian pasar global pekan ini tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis Rabu malam jam 19.30 WIB  diperkirakan menunjukkan tekanan harga kembali menguat setelah beberapa bulan sebelumnya sempat bergerak turun.

Menurut konsensus ekonom yang dihimpun FactSet, inflasi tahunan AS diperkirakan mencapai 4,2% pada Mei, meningkat dari 3,8% pada April. Jika proyeksi tersebut terbukti akurat, maka tingkat inflasi akan menjadi yang tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir dan menandai bulan ketiga berturut-turut kenaikan tekanan harga konsumen.

Secara bulanan, indeks harga konsumen diperkirakan naik 0,5%, sedikit lebih rendah dibandingkan kenaikan 0,6% pada April. Meski demikian, angka tersebut masih menunjukkan bahwa tekanan inflasi tetap kuat dan jauh dari target jangka panjang Federal Reserve sebesar 2%.

Data ini menjadi sangat penting karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS pada paruh kedua tahun ini. Jika inflasi kembali meningkat, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga akan semakin memudar dan bahkan membuka peluang munculnya skenario kenaikan suku bunga baru.

Gejolak Timur Tengah Kembali Picu Inflasi

Hanya beberapa bulan lalu, sebagian besar ekonom memperkirakan inflasi AS akan terus melambat sepanjang 2026. Namun perkembangan geopolitik mengubah perkiraan tersebut secara drastis.

Konflik yang melibatkan Iran telah mendorong gangguan besar pada pasokan energi global. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menyebabkan sekitar 20% pasokan minyak dunia mengalami hambatan distribusi, memicu lonjakan harga minyak mentah dan gas alam di pasar internasional.

Dampaknya langsung terasa pada konsumen AS.

Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan harga bensin rata-rata nasional meningkat dari sekitar US$4,04 per galon pada pertengahan April menjadi US$4,49 per galon pada pertengahan Mei. Kenaikan tersebut segera tercermin dalam berbagai komponen inflasi, mulai dari transportasi hingga biaya logistik.

Situasi ini memperburuk tekanan harga yang sebelumnya telah dipicu oleh kebijakan tarif impor Presiden Donald Trump pada April 2025. Tarif yang dikenakan terhadap berbagai produk impor telah meningkatkan biaya produksi dan harga barang konsumsi di pasar domestik.

Kombinasi antara tarif perdagangan dan lonjakan harga energi menciptakan lingkungan inflasi yang jauh lebih kompleks dibandingkan yang diperkirakan sebelumnya.

Kini pertanyaan utama bagi investor adalah apakah inflasi hanya bersifat sementara dan akan mereda setelah harga energi turun, atau justru berkembang menjadi tekanan harga yang lebih permanen.

Inflasi Inti Jadi Fokus Utama The Fed

Meskipun kenaikan harga energi menjadi pemicu utama inflasi, perhatian Federal Reserve saat ini justru tertuju pada inflasi inti atau core inflation.

Indikator ini mengecualikan komponen makanan dan energi yang cenderung berfluktuasi sehingga dianggap lebih mampu mencerminkan tren inflasi jangka panjang.

Ekonom memperkirakan inflasi inti meningkat 0,3% pada Mei dibandingkan bulan sebelumnya. Secara tahunan, inflasi inti diperkirakan naik menjadi 2,9% dari 2,8%.

Angka tersebut memang masih jauh lebih rendah dibandingkan inflasi utama. Namun bagi Federal Reserve, inflasi inti memiliki arti yang jauh lebih penting karena menunjukkan apakah tekanan harga mulai menyebar ke seluruh sektor ekonomi.

Beberapa ekonom mulai melihat tanda-tanda tersebut.

Harga layanan kesehatan, perawatan gigi, jasa profesional, hingga biaya perbaikan kendaraan bermotor masih menunjukkan kenaikan yang relatif kuat. Sektor-sektor ini tidak memiliki keterkaitan langsung dengan harga bahan bakar sehingga peningkatan harga dapat menjadi indikasi bahwa inflasi mulai mengakar lebih dalam.

Di sisi lain, pertumbuhan upah masih berlangsung dalam laju yang relatif moderat. Kondisi ini sebenarnya dapat membantu membatasi tekanan harga karena perusahaan tidak menghadapi lonjakan biaya tenaga kerja yang signifikan.

Namun jika inflasi jasa terus meningkat, Federal Reserve kemungkinan akan memandang kondisi tersebut sebagai sinyal bahwa tekanan harga belum sepenuhnya terkendali.

Biaya Logistik dan Harga Pangan Mulai Tertekan

Kenaikan harga energi juga mulai merembet ke berbagai sektor lain dalam perekonomian.

Harga solar yang lebih tinggi meningkatkan biaya distribusi barang di seluruh Amerika Serikat. Perusahaan logistik besar seperti UPS dan FedEx telah menerapkan tambahan biaya bahan bakar dalam beberapa bulan terakhir guna mengimbangi kenaikan biaya operasional.

Kondisi tersebut pada akhirnya akan diteruskan ke konsumen dalam bentuk harga barang yang lebih mahal.

Sektor pangan menjadi salah satu yang paling rentan. Harga bahan makanan naik 0,7% pada April dan kini berada 2,9% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Bagi rumah tangga AS, kenaikan harga kebutuhan pokok berpotensi memberikan tekanan yang lebih besar dibandingkan kenaikan harga barang lainnya karena langsung memengaruhi pengeluaran sehari-hari.

Inilah yang membuat inflasi kembali menjadi isu politik penting menjelang pemilu paruh waktu.

Harapan Pemangkasan Suku Bunga Kian Memudar

Perubahan dinamika inflasi juga mulai mengubah pandangan para pejabat Federal Reserve.

Pada awal tahun, sebagian besar pembuat kebijakan masih memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga pada 2026 seiring perlambatan inflasi. Namun kini pandangan tersebut mulai bergeser.

Semakin banyak pejabat The Fed yang menyatakan bahwa langkah kebijakan berikutnya kemungkinan bukan pemangkasan suku bunga, melainkan kenaikan suku bunga tambahan jika tekanan harga terus meningkat.

Perubahan ekspektasi tersebut juga tercermin di pasar keuangan.

Berdasarkan kontrak berjangka yang dipantau CME FedWatch, investor Wall Street kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember semakin meningkat.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun dan 10 tahun juga mengalami kenaikan setelah laporan ketenagakerjaan terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja tetap kuat.

Kenaikan yield tersebut mencerminkan pandangan investor bahwa inflasi dapat bertahan lebih lama sehingga memerlukan respons kebijakan yang lebih ketat dari Federal Reserve.

Pasar Tenaga Kerja Masih Solid

Di tengah kekhawatiran inflasi, ekonomi AS masih menunjukkan ketahanan yang cukup kuat.

Data ketenagakerjaan terbaru memperlihatkan peningkatan perekrutan tenaga kerja pada Mei dengan laju yang dinilai sehat. Aktivitas ekonomi juga tetap tumbuh meskipun biaya pinjaman berada pada level tinggi.

Kondisi ini memberi ruang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Berbeda dengan situasi ketika ekonomi melemah dan membutuhkan stimulus, saat ini The Fed tidak menghadapi tekanan besar untuk segera memangkas suku bunga guna mendukung pertumbuhan.

Sebaliknya, sebagian pejabat bank sentral bahkan menilai perlambatan ekonomi moderat justru diperlukan untuk membantu mengembalikan inflasi ke target 2%.

Tantangan Besar bagi Ketua Fed yang Baru

Lonjakan inflasi juga menempatkan Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh, dalam posisi yang tidak mudah.

Warsh sebelumnya dikenal sebagai pendukung kebijakan moneter yang lebih longgar dan sempat mendorong pemangkasan suku bunga ketika inflasi mulai melandai tahun lalu. Ia juga dipilih Presiden Donald Trump untuk menggantikan Jerome Powell, yang selama bertahun-tahun menjadi sasaran kritik Gedung Putih karena dianggap terlalu lambat memangkas suku bunga.

Namun kondisi ekonomi saat ini membuat ruang gerak Warsh menjadi lebih terbatas.

Dengan inflasi kembali meningkat dan pasar tenaga kerja tetap kuat, Federal Reserve sulit memberikan sinyal pelonggaran kebijakan tanpa mempertaruhkan kredibilitasnya dalam menjaga stabilitas harga.

Untuk sementara, pemerintahan Trump tampaknya lebih fokus menegaskan bahwa suku bunga tidak perlu dinaikkan lebih lanjut dibandingkan mendorong pemangkasan tambahan.

Meski demikian, apabila inflasi terus bergerak naik dalam beberapa bulan mendatang, tekanan terhadap Federal Reserve untuk mempertahankan kebijakan ketat kemungkinan akan semakin besar.

Bagi investor global, data inflasi Mei akan menjadi salah satu indikator paling penting untuk menentukan arah pasar keuangan hingga akhir tahun. Jika tekanan harga terbukti lebih tinggi dari perkiraan, peluang kenaikan suku bunga The Fed dapat semakin menguat, sekaligus memperpanjang era biaya pinjaman tinggi yang telah membentuk arahpasar global selama beberapa tahun terakhir.