Indeks Kospi Senin Ditutup Anjlok Tertekan Pelemahan Saham Teknologi dan Ketegangan Geopolitik

172
kospi

(Vibiznews – Index) Bursa Saham Korea Selatan ditutup anjlok tajam pada hari Senin, 20 Juli 2026, memperpanjang tren negatif dari pekan sebelumnya akibat tertekan oleh memburuknya aksi jual pada saham-saham sektor teknologi serta memanasnya kembali geopolitik di Timur Tengah.

Indeks acuan Korea Composite Stock Price Index (KOSPI) merosot 304,33 poin, atau 4,46 persen lebih rendah, dan ditutup pada level 6.516,27.

Indeks tersebut dibuka pada 6.643,58, sempat menyentuh level tertinggi intraday di 6.814,86, dan terperosok ke level terendah di 6.472,80 di pertengahan sesi perdagangan.

Kejatuhan mendalam ini terjadi seiring memudarnya selera risiko (risk appetite) pelaku pasar terhadap sektor Kecerdasan Buatan (AI). Kekhawatiran mengenai profitabilitas belanja modal atau “gelembung AI” memicu aksi jual berkelanjutan (sell-off) pada saham-saham semikonduktor global, yang langsung menghantam bursa Korea Selatan sebagai salah satu eksportir utama perangkat keras teknologi dunia.

Para analis mencatat bahwa eskalasi serangan militer antara Amerika Serikat dan Iran semakin memperparah kepanikan di pasar. Ketegangan yang mengancam jalur pasokan energi di Selat Hormuz ini memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, sehingga membangkitkan kembali ketakutan akan inflasi. Sentimen ini membuat investor khawatir bahwa era suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama, memicu aksi masif pelepasan aset berisiko tinggi.

Saham-saham berkapitalisasi besar di sektor pembuat cip dan elektronik kembali memimpin kejatuhan bursa. Saham unggulan pasar, Samsung Electronics, dan rivalnya di bidang pembuatan chip, SK hynix, mencatatkan kerugian tajam mengekor tren pelemahan produsen cip di bursa Wall Street.

Di sektor transportasi, pergerakan ikut tertekan hebat di tengah kejatuhan indeks utama dan kekhawatiran membengkaknya biaya operasional akibat lonjakan harga minyak dunia. Sementara itu, mayoritas saham di sektor andalan lainnya ikut terdampak tren negatif, menyisakan saham-saham di sektor pertahanan sebagai segelintir aset yang mendapatkan sentimen positif di tengah memanasnya konflik militer global.