(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka New York ditutup menguat pada perdagangan hari Senin karena kembali munculnya kekhawatiran atas gangguan pasokan dari Afrika Barat yang memicu aksi beli di pasar berjangka kakao.
Harga kakao berjangka kontrak September 2026 ditutup naik 1,85% pada $5.642 per ton.
Reuters melaporkan pada hari Senin bahwa estimasi kedatangan pasokan kakao di pelabuhan utama Pantai Gading mengalami penurunan sebesar -12% y/y pada pertengahan Juli, mengindikasikan adanya perlambatan distribusi dari tingkat petani.
Harga kakao kembali menunjukkan tren penguatan minggu ini setelah sempat mengalami konsolidasi. Kekhawatiran pasar yang berkepanjangan mengenai dampak anomali cuaca terhadap panen kakao Afrika Barat terus menjadi faktor utama yang menopang harga tetap tinggi.
Hujan yang masih terus mengguyur beberapa wilayah penghasil utama di Pantai Gading dan Ghana telah menghambat proses pengeringan biji kakao pasca-panen serta merusak infrastruktur jalan, sehingga memperlambat arus pasokan menuju pelabuhan ekspor.
Kondisi kelembaban tanah yang tinggi di area perkebunan juga terus memicu kekhawatiran akan meluasnya wabah penyakit busuk cokelat (black pod disease) pada pohon kakao, yang secara historis dapat menurunkan hasil panen secara signifikan di musim mendatang.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga kakao dapat bergerak naik terpicu oleh sentimen kekhawatiran pengetatan pasokan global. Harga kakao diperkirakan bergerak jika terkoreksi turun dalam kisaran Support $5.530-$5.480. Namun jika melanjutkan kenaikan, akan bergerak menguji kisaran Resistance $5.720-$5.780.








