(Vibiznews – Economy) – Bank Sentral Eropa atau ECB mempertahankan suku bunga utamanya tetap stabil pada hari Kamis, menyusul kenaikan yang dilakukan pada bulan Juni lalu.
European Central Bank (ECB) mempertahankan suku bunga pada operasi pembiayaan kembali utama dan fasilitas simpanan masing-masing di level 2,40% dan 2,25%.
Keputusan ini diambil di tengah meredanya inflasi, pertumbuhan ekonomi kawasan Euro yang lebih lambat, serta volatilitas harga energi akibat konflik di Timur Tengah.
Dewan Pengurus ECB, dalam pernyataan kebijakannya, menyoroti bahwa prospek harga energi saat ini masih sangat fluktuatif dan berada jauh di atas tingkat sebelum konflik Timur Tengah terjadi, dengan dampak inflasi penuh yang belum sepenuhnya terlihat.
ECB menegaskan tidak akan berkomitmen pada jalur suku bunga tertentu di masa depan. Sebagai gantinya, bank sentral akan mengikuti pendekatan berbasis data dan mengevaluasi kebijakan dari rapat ke rapat guna menentukan sikap moneter yang tepat.
Bank sentral juga memastikan portofolio Asset Purchase Programme (APP) dan Pandemic Emergency Purchase Programme (PEPP) akan terus menyusut pada kecepatan yang terukur, karena Eurosystem tidak lagi menginvestasikan kembali pembayaran pokok dari surat berharga yang jatuh tempo.
Sementara itu, ekonomi kawasan Euro dilaporkan kehilangan momentum, dengan kontraksi sebesar 0,2% pada kuartal pertama tahun ini di tengah melemahnya kondisi pasar tenaga kerja.
Kondisi tersebut menempatkan ECB dan Presiden Christine Lagarde dalam dilema antara mendukung pertumbuhan ekonomi dan menahan tekanan inflasi yang masih membayangi.
ECB menyatakan akan terus siap menyesuaikan seluruh instrumen kebijakannya untuk memastikan inflasi stabil di target 2% dalam jangka menengah.
Merespons pengumuman kebijakan ini, mata uang Euro terpantau mengalami tekanan. Pasangan mata uang EUR/USD turun tipis 0,23% ke kisaran 1,1385, dengan Euro juga mencatatkan kinerja terlemahnya terhadap Dolar Kanada.






