(Vibiznews – Commodity) Harga minyak mentah bergerak naik pada hari Rabu, melanjutkan tren kenaikan selama empat sesi berturut-turut di tengah minimnya tanda-tanda kesepakatan antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz, sehingga kekhawatiran mengenai pasokan tetap tinggi.
Harga minyak mentah berjangka WTI AS bergerak naik 2% pada $86,67 per barel.
Harga minyak mentah berjangka Brent bergerak naik 1,575 pada $92,45 per barel.
Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung dengan Iran sembari menegaskan bahwa blokade angkatan laut AS masih diberlakukan.
Risiko pelayaran di Selat Hormuz juga masih ada—meskipun Trump mengklaim jalur tersebut terbuka dan ranjau telah dibersihkan—dengan lalu lintas yang masih terbatas di jalur strategis tersebut.
Pasukan Iran telah meningkatkan tindakan pertikaian selama sepekan terakhir, sementara delapan serangan terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz—termasuk kapal-kapal yang terkait dengan UEA dan Arab Saudi—telah dilaporkan sepanjang bulan ini.
Di AS, data industri menunjukkan penurunan pasokan minyak mentah sebesar 328.000 barel pada pekan lalu, menyusul kenaikan sebesar 9,07 juta barel pada pekan sebelumnya.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga minyak akan bergerak naik seiring kebuntuan negosiasi AS-Iran yang memicu kekhawatiran pasokan.
Harga minyak mentah berjangka WTI AS diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $85,01-$83,52. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance $87,30-$88,10.
Harga minyak mentah berjangka Brent diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $91,11-$89,79. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance $93,12-$93,80.







