(Vibiznews – Index) Bursa saham Korea Selatan ditutup ambles pada perdagangan hari ini, Jumat, 11 September 2026, setelah mengalami tekanan hebat sejak awal perdagangan yang membuat indeks terlempar keluar dari level psikologis 7.000.
Indeks acuan Korea Composite Stock Price Index (Kospi) ditutup turun 124,01 poin, atau merosot 1,76 persen, dan berakhir pada level 6.909,91. Indeks sempat anjlok hingga 3,3 persen di sesi pagi dan menyentuh level terendah harian di 6.802,50, sebelum mencoba memangkas kerugian di paruh kedua sesi, namun tetap gagal bangkit ke zona hijau hingga penutupan.
Koreksi dalam yang melanda pasar saham Korea Selatan hari ini didorong oleh kombinasi tiga hantaman makro global, yaitu lonjakan harga minyak, kenaikan bunga obligasi, dan kecemasan inflasi AS. Faktor utama pemicu kepanikan pasar adalah meroketnya harga minyak mentah Brent hingga USD 109,97 per barel akibat eskalasi konflik militer AS-Iran di Selat Hormuz serta aksi kelompok Houthi di Laut Merah. Sebagai negara industri yang sangat bergantung pada impor energi murni, lonjakan biaya komoditas ini langsung memicu kekhawatiran inflasi impor yang parah bagi Korea Selatan.
Sentimen negatif juga menular dari kejatuhan bursa saham AS selama empat hari berturut-turut setelah rilis data inflasi produsen yang lebih tinggi dari perkiraan. Kondisi ini diperparah oleh lonjakan imbal hasil obligasi US Treasury tenor 10 tahun menuju level 4,86 persen, memicu arus keluar modal asing dari aset-aset berisiko di Asia-Pasifik. Para pelaku pasar juga bersikap ekstra defensif menjelang rapat kebijakan moneter Federal Reserve dan Bank of Japan minggu depan, seiring data inflasi AS yang keras membuka kembali peluang kenaikan suku bunga baru oleh The Fed, sementara BOJ juga diproyeksikan akan menaikkan suku bunga acuan domestiknya.
Sebagai motor penggerak utama bursa Seoul, saham teknologi mengalami pukulan telak akibat penyesuaian valuasi global. Saham raksasa cip Samsung Electronics dan SK Hynix mencatatkan pelemahan yang menekan indeks. Selain itu, peringatan dari Bank of Korea mengenai produk investasi ETF leverage berbasis saham tunggal teknologi yang dapat memperluas volatilitas turut menambah kekhawatiran pasar.
Kejatuhan KOSPI hari ini sedikit tertahan oleh performa gemilang emiten galangan kapal komersial. Saham sektor perkapalan justru bergerak melawan arus karena investor mengantisipasi komersialisasi teknologi sistem penyimpanan kargo LNG baru milik produsen domestik di tengah ketegangan maritim global. Sejalan dengan jatuhnya pasar ekuitas, nilai tukar mata uang won melemah 6,7 won dan ditutup pada level 1.345,9 won per dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini.








