Bank of England Tahan Suku Bunga, Berbeda Arah dengan The Fed

29
boe inggris

Bank of England (BoE) memilih mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75% pada Kamis 17 September 2026, meski tekanan inflasi Inggris kembali meningkat dan berada jauh di atas target bank sentral sebesar 2%.

Keputusan yang diumumkan pada Kamis tersebut sekaligus membuat kebijakan moneter Inggris berbeda arah dengan sejumlah bank sentral utama lainnya. Sehari sebelumnya, Federal Reserve Amerika Serikat menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, sementara Bank Sentral Eropa (ECB) juga telah menaikkan suku bunga pada pekan sebelumnya.

Meski mempertahankan suku bunga, BoE memberikan sinyal bahwa kenaikan berikutnya semakin mungkin diperlukan apabila tekanan inflasi terus bertahan.

Komite Kebijakan Moneter (Monetary Policy Committee/MPC) memberikan suara 6-3 untuk mempertahankan Bank Rate di level 3,75%. Tiga anggota MPC memilih kenaikan sebesar 25 basis poin menjadi 4%.

Perbedaan suara tersebut menjadi salah satu perhatian utama pasar. Keputusan mayoritas memang masih mempertahankan suku bunga, tetapi adanya tiga anggota yang secara terbuka mendorong kenaikan menunjukkan bahwa tekanan untuk memperketat kebijakan moneter belum hilang.

Pasar sebelumnya memperkirakan peluang sekitar 76% bahwa BoE akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan ini, berdasarkan data LSEG. Namun, kenaikan setidaknya 25 basis poin telah secara luas diperhitungkan untuk pertemuan berikutnya pada November.

Inflasi Kembali Menjadi Perhatian

Keputusan BoE tidak dapat dilepaskan dari perkembangan inflasi Inggris.

Data yang dirilis sehari sebelum keputusan suku bunga menunjukkan inflasi konsumen Inggris atau CPI meningkat menjadi 3,1% pada Agustus. Angka tersebut merupakan kenaikan pertama di atas level 3% sejak Maret.

Office for National Statistics (ONS) Inggris menyebut kenaikan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya biaya bahan bakar kendaraan, yang melonjak sekitar 23% secara tahunan.

Kenaikan harga energi menjadi perhatian penting bagi Inggris karena negara tersebut merupakan importir energi bersih. Artinya, perubahan harga energi global dapat memberikan dampak langsung terhadap biaya hidup dan tekanan harga domestik.

Inggris juga masih menghadapi dampak krisis biaya hidup yang muncul setelah pandemi Covid-19 dan diperburuk oleh dampak perang Rusia-Ukraina terhadap pasokan gas alam.

Dalam kondisi tersebut, kenaikan harga energi global kembali menjadi risiko terhadap inflasi.

Gubernur Bank of England Andrew Bailey mengatakan sejauh ini kenaikan biaya energi global masih memberikan dampak yang terbatas terhadap pembentukan harga dan upah di Inggris.

Namun, ia memberikan peringatan bahwa situasi tersebut dapat berubah apabila volatilitas berlangsung lebih lama.

Menurut Bailey, semakin lama volatilitas harga energi bertahan, semakin besar dampaknya terhadap inflasi dan semakin besar kemungkinan BoE perlu menaikkan Bank Rate untuk memastikan inflasi kembali menuju target 2%.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa keputusan mempertahankan suku bunga bukan berarti BoE mengesampingkan risiko inflasi.

Sebaliknya, bank sentral masih membuka ruang untuk melakukan pengetatan apabila tekanan harga semakin persisten.

Tiga Anggota Dorong Kenaikan

Perbedaan pandangan di dalam MPC memberikan gambaran mengenai perdebatan yang sedang berlangsung di tubuh bank sentral Inggris.

Catherine L. Mann, salah satu anggota MPC yang memilih kenaikan suku bunga, menilai risiko inflasi ke atas telah meningkat sejak Juli.

Menurut Mann, keberlanjutan konflik geopolitik telah mendorong harga energi jauh lebih tinggi dibandingkan proyeksi yang digunakan dalam laporan Juli.

Ia juga mencatat bahwa proyeksi inflasi jangka pendek BoE menunjukkan CPI dapat meningkat hingga di atas 4% pada awal 2027.

Bagi Mann, menaikkan Bank Rate merupakan strategi manajemen risiko untuk menghadapi ketidakpastian mengenai dinamika inflasi dan kemungkinan munculnya efek putaran kedua (second-round effects).

Efek putaran kedua terjadi ketika kenaikan harga energi atau biaya lainnya mulai menyebar ke harga barang, jasa, upah, dan ekspektasi inflasi yang lebih luas.

Mann memperingatkan bahwa apabila inflasi menjadi semakin tertanam dalam perekonomian, bank sentral nantinya dapat dipaksa menerapkan kebijakan yang lebih ketat.

Pandangan serupa disampaikan Megan Greene, anggota MPC lainnya yang memilih kenaikan suku bunga.

Greene menyoroti sejumlah sumber ketidakpastian, termasuk dampak lanjutan perang Iran, keterbatasan pasokan yang berkaitan dengan perkembangan kecerdasan buatan atau AI, serta fenomena iklim El Niño.

Sementara itu, Huw Pill, anggota MPC ketiga yang memilih pengetatan, menilai kenaikan suku bunga akan memberikan sinyal yang lebih jelas mengenai komitmen bank sentral terhadap stabilitas harga.

Menurut Pill, tindakan lebih awal dapat membantu mencegah tekanan inflasi menjadi semakin mengakar dan pada akhirnya membutuhkan kebijakan yang jauh lebih ketat untuk dikendalikan.

Berbeda dengan The Fed

Keputusan BoE menjadi semakin menarik karena terjadi hanya sehari setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga AS sebesar 25 basis poin.

The Fed menaikkan suku bunga ke kisaran 3,75%–4,00%,

sekaligus memberikan sinyal bahwa satu kenaikan lagi masih mungkin terjadi tahun ini.

Perbedaan langkah kedua bank sentral tersebut mencerminkan kondisi ekonomi dan inflasi yang tidak sepenuhnya sama.

Namun, dari perspektif pasar global, keputusan BoE menunjukkan bahwa bank sentral utama tidak selalu bergerak secara seragam.

Sementara The Fed kembali memperketat kebijakan, BoE memilih menunggu dan melihat perkembangan data lebih lanjut.

Bank of Japan juga menjadi perhatian pasar. Bank sentral Jepang diperkirakan akan mengambil keputusan mengenai suku bunga pada akhir pertemuan dua hari yang berlangsung pada Jumat.

Perbedaan arah kebijakan ini dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan mata uang, obligasi, dan aliran modal global.

Imbal Hasil Obligasi Inggris Turun

Pasar obligasi Inggris memberikan respons positif setelah BoE mempertahankan suku bunga.

Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris atau gilts tenor 10 tahun turun sekitar 8 basis poin menjadi 5,2169%. Sementara itu, imbal hasil gilt tenor 30 tahun turun hampir 12 basis poin menjadi 5,7415%.

Pergerakan tersebut terjadi setelah sepanjang tahun ini obligasi Inggris menghadapi tekanan akibat berbagai faktor, mulai dari kekhawatiran inflasi global, ketidakstabilan politik hingga ketidakpastian mengenai kebijakan fiskal pemerintah Inggris.

Biaya pinjaman Inggris saat ini merupakan yang tertinggi di antara negara-negara G7, dengan imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang mendekati level 6%.

Bagi investor obligasi, arah kebijakan BoE menjadi faktor penting dalam menentukan prospek imbal hasil ke depan.

Scott Gardner, investment strategist di J.P. Morgan Personal Investing, mengatakan BoE tampaknya masih memilih untuk “menunggu waktu yang tepat”.

Menurut Gardner, meskipun inflasi utama meningkat selama musim panas, pasar tenaga kerja Inggris terus mengalami pelemahan. Sementara itu, inflasi inti dan inflasi sektor jasa relatif bertahan sejak konflik di Timur Tengah dimulai.

Risiko Energi Masih Membayangi

Sejauh ini, perekonomian Inggris relatif mampu menahan dampak langsung konflik geopolitik, selain tekanan melalui kenaikan biaya energi.

Namun, durasi konflik akan menjadi faktor penting.

Semakin lama gangguan terhadap pasokan dan harga energi berlangsung, semakin besar kemungkinan dampaknya menyebar ke sektor ekonomi lainnya.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi BoE. Bank sentral harus menjaga inflasi tetap terkendali tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap perekonomian yang mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan.

Neil Birrell, chief investment officer di Premier Miton, menilai BoE tampaknya lebih tenang dalam menghadapi risiko inflasi dibandingkan sejumlah bank sentral internasional lainnya.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa pasar telah mulai memperhitungkan sejumlah kenaikan suku bunga hingga akhir tahun dan berlanjut hingga pertengahan tahun depan.

Dengan ekspektasi tersebut, pasar gilt tetap memiliki potensi menghadapi perubahan arah pergerakan apabila ekspektasi suku bunga kembali bergeser.

Pasar Menanti Arah Kebijakan BoE Selanjutnya

Keputusan BoE kali ini pada akhirnya bukan hanya tentang mempertahankan suku bunga di level 3,75%.

Yang menjadi perhatian pasar adalah apa yang akan dilakukan bank sentral pada pertemuan berikutnya.

Dengan inflasi CPI sudah mencapai 3,1%, tiga anggota MPC telah menyatakan dukungan terhadap kenaikan suku bunga, dan tekanan harga energi masih menjadi risiko, pertemuan November berpotensi menjadi titik penting bagi arah kebijakan moneter Inggris.

Namun, perkembangan pasar tenaga kerja, inflasi inti, inflasi sektor jasa, harga energi, serta kondisi perekonomian secara keseluruhan akan menjadi faktor penentu.

Untuk sementara, BoE memilih mempertahankan suku bunga, berbeda dengan langkah agresif The Fed sehari sebelumnya.

Keputusan tersebut menunjukkan bahwa bank sentral Inggris masih memiliki ruang untuk menunggu perkembangan data sebelum mengambil langkah berikutnya.

Namun, pesan dari tiga anggota MPC yang menginginkan kenaikan juga tidak dapat diabaikan.

Dengan inflasi yang masih berada di atas target, tekanan harga energi yang belum sepenuhnya mereda, serta ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi, pasar kini memasuki periode menunggu dengan satu pertanyaan utama: apakah BoE akan tetap bertahan atau mulai mengikuti langkah pengetatan bank sentral besar lainnya pada pertemuan berikutnya?