(Vibiznews – Commodity) Harga gula mentah di bursa komoditi berjangka internasional ditutup menguat pada sesi perdagangan awal pekan hari Senin, berhasil bangkit dan mencetak rebound setelah sempat mengalami koreksi yang cukup tajam pada akhir pekan lalu.
Kontrak berjangka gula mentah dunia acuan nomor 11 di bursa ICE New York ditutup naik 0,77 persen atau bertambah 0,14 sen ke level 18,38 sen per pon. Sepanjang sesi perdagangan semalam, harga komoditas pemanis ini terus bergerak memulihkan posisinya dari titik terendah minggu lalu yang sempat anjlok hingga menyentuh area 17,40 sen per pon.
Kebangkitan harga gula mentah dunia ini mendapat dorongan kuat dari sentimen positif di pasar mata uang, khususnya penguatan nilai tukar Real Brasil terhadap Dolar AS. Sebagai negara produsen dan eksportir gula terbesar di dunia, pergerakan mata uang Brasil sangat mendikte pasar. Ketika Real Brasil menguat, para produsen cenderung menahan volume penjualan mereka ke pasar global karena nilai konversi keuntungan dari Dolar AS ke mata uang domestik menjadi kurang menarik. Keputusan untuk menahan laju ekspor ini secara instan langsung mengurangi tekanan pasokan di bursa dan mengangkat harga berjangka.
Selain faktor nilai tukar, sentimen fundamental jangka panjang terus membentengi harga gula seiring meluasnya ancaman defisit pasokan global. Organisasi Gula Internasional (ISO) memproyeksikan bahwa pasar gula dunia akan berbalik mengalami defisit sebesar dua ratus ribu metrik ton untuk musim 2026 hingga 2027, sebuah kondisi yang berbalik drastis dibandingkan surplus satu juta metrik ton lebih pada musim sebelumnya.
Kekhawatiran terhadap sisi pasokan ini semakin diperketat oleh hambatan likuiditas fisik di kawasan Asia. Kebijakan ketat dari pemerintah India yang menahan keran ekspor gula hingga akhir September tahun ini demi mengendalikan inflasi pangan domestik telah membuat pasar internasional kehilangan salah satu pemasok terbesarnya. Situasi ini diperberat oleh proyeksi dari asosiasi pabrik gula Thailand yang memperkirakan bahwa output produksi dari eksportir terbesar kedua tersebut berisiko anjlok hingga tujuh belas persen secara tahunan akibat terdampak pola cuaca kering yang mengganggu fase pertumbuhan tebu.
Merespons kuatnya fundamental pasokan yang serba ketat tersebut, para pelaku pasar keuangan menunjukkan optimisme yang solid. Berdasarkan laporan berkala dari Commitment of Traders, para pengelola dana komoditas investasi global tercatat terus mengakumulasi posisi beli bersih mereka hingga menembus seratus enam puluh satu ribu lot. Tingginya tumpukan posisi beli ini mencerminkan tingginya ekspektasi di kalangan spekulan bahwa harga gula masih memiliki ruang untuk melanjutkan reli penguatan dalam jangka menengah.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga gula mentah berpotensi melanjutkan tren positifnya seiring masih kuatnya sentimen ancaman defisit dari kawasan produksi utama serta masifnya dukungan aliran dana spekulatif. Harga gula mentah diperkirakan akan bergerak menguji kisaran resistance terdekat di 18,65 hingga 18,85. Namun apabila terjadi koreksi teknis jangka pendek, pergerakan harga akan mengarah pada kisaran support 18,15 hingga 17,95.







