Rekomendasi Forex Dolar AS 25 September 2026 : Terdukung Lonjakan Yield Treasury AS dan Komentar Hawkish Pejabat Fed; Waspadai Pelemahan Data Ekonomi

74

(Vibiznews – Forex) Indeks dolar AS ditutup menguat pada hari Kamis, 24 Septeber 2026, terdukung lonjakan imbal hasil Treasury AS.

Indeks dolar AS ditutup naik 0,15% pada 101,28.

Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun melonjak ke level tertinggi dalam 19 tahun di angka 5,18%, yang memperkuat selisih suku bunga dolar.

Dolar AS juga menguat pada hari Kamis berkat tanda-tanda ketahanan ekonomi AS setelah data klaim tunjangan pengangguran mingguan turun secara tak terduga ke level terendah dalam 2 bulan, serta data penjualan rumah baru bulan Agustus yang naik melampaui perkiraan hingga mencapai level tertinggi dalam 8 bulan.

Data klaim awal tunjangan pengangguran mingguan AS turun secara tak terduga sebesar 1.000 menjadi 197.000—level terendah dalam 2 bulan—yang menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja lebih kuat dibandingkan perkiraan kenaikan menjadi 200.000.

Penjualan rumah baru AS bulan Agustus naik +6,4% secara bulanan (*m/m*) ke level tertinggi dalam 8 bulan sebesar 684.000 unit, melampaui perkiraan angka 616.000 unit.

Selain itu, komentar bernada hawkish dari pejabat The Fed turut mendukung dolar pada hari Kamis; Presiden The Fed New York, John Williams, menyatakan bahwa The Fed masih memiliki banyak pekerjaan untuk meredam inflasi, sementara Presiden The Fed Philadelphia, Anna Paulson, mengatakan bahwa pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut yang moderat mungkin diperlukan, yang mengisyaratkan dukungan terhadap kenaikan suku bunga tambahan oleh The Fed.

Tambahan pula, lonjakan harga minyak mentah WTI sebesar +2% pada hari Kamis meningkatkan ekspektasi inflasi dan dapat mendorong The Fed untuk memperketat kebijakan moneter lebih lanjut, yang menjadi faktor penguat bagi dolar.

Pasar memperhitungkan adanya peluang sebesar 69% bagi kenaikan suku bunga The Fed sebesar +25 basis poin pada pertemuan FOMC berikutnya tanggal 27-28 Oktober.

Fokus pasar sepanjang hari Kamis tertuju pada pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Washington. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan kedua negara sepakat memperpanjang gencatan perang dagang yang sedianya berakhir November, kini diperpanjang hingga 10 Januari 2027. Meski demikian, ketegangan terkait mineral tanah jarang, pembatasan teknologi, dan isu Taiwan disebut masih membayangi hubungan kedua negara ke depan.

Malam nanti akan dirilis data Durable Goods Orders Agustus AS yang diindikasikan menurun.

Juga akan dirilis data Michigan Consumer Sentiment Final September AS yang diindikasikan menurun.

Juga akan ada pernyataan dari pejabat Fed Schmid.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, indeks dolar AS masih berpeluang bergerak menguat, terdukung oleh tingginya imbal hasil Treasury AS dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Oktober, terpicu pernyataan hawkish pejabat Fed. Namun jika data ekonomi AS terealisir turun, akan menekan dolar AS. Pelaku pasar juga akan mencermati kelanjutan kunjungan kenegaraan Presiden Xi Jinping yang berlangsung hingga hari Jumat, untuk melihat apakah ada sinyal lanjutan terkait hubungan dagang AS-Tiongkok yang dapat memengaruhi sentimen pasar valuta asing. Indeks dolar AS diperkirakan bergerak dalam kisaran Resistance 101,45-101,61. Namun jika turun, akan bergerak dalam kisaran Support 101,06-100,83.