(Vibiznews – Commodity) – Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah atau CPO acuan dunia kembali tertekan pada sesi perdagangan bursa komoditas Malaysia hari Senin (28/9/2026). Kontrak acuan kelapa sawit di Bursa Malaysia Derivatives tersebut melanjutkan tren koreksi jangka pendeknya dengan melemah ke level RM4.672 per metrik ton, dan pergerakannya bahkan sempat menyentuh level terendah dalam enam minggu terakhir pada awal pekan ini.
Tren penurunan harga minyak sawit mentah utamanya dipicu oleh akumulasi rilis data ekspor yang lesu serta dinamika persediaan pasar di kawasan regional. Laporan terbaru dari lembaga surveyor kargo menunjukkan bahwa pengiriman ekspor minyak sawit Malaysia mengalami penurunan yang tajam, yakni antara 15,1 persen hingga 24,3 persen sepanjang periode 1 hingga 25 September jika dibandingkan dengan bulan lalu. Melemahnya permintaan global ini menjadi pemicu utama sentimen pasar yang lesu, yang kemudian diperparah oleh bayang-bayang lonjakan stok gudang. Para pelaku pasar saat ini tengah mengantisipasi terjadinya akumulasi pasokan, di mana persediaan akhir Malaysia pada penghujung September diperkirakan akan melambung mendekati angka psikologis 3 juta ton akibat adanya kenaikan produksi hingga dua digit, khususnya yang terjadi di wilayah Sabah.
Selain tantangan fundamental pasokan, harga CPO juga terseret oleh koreksi harga minyak nabati pesaing di pasar internasional. Kontrak minyak kedelai di bursa komoditas Dalian Tiongkok dan Chicago Board of Trade Amerika Serikat terpantau mengalami penurunan. Menyempitnya selisih harga ini membuat para pembeli besar memiliki insentif yang lebih tinggi untuk beralih ke minyak nabati substitusi yang lebih murah. Kondisi daya saing ini semakin diperberat oleh saturasi permintaan dari India. Meskipun pemerintah India baru-baru ini menerapkan pemangkasan tarif impor minyak sawit olahan menjadi 27,5 persen untuk menekan harga domestik mereka, efek stimulus kebijakan ini justru diredam oleh kenyataan bahwa para importir di sana telah melakukan pembelian fisik yang sangat agresif pada bulan Agustus hingga awal September, sehingga aktivitas belanja mereka saat ini cenderung melambat secara signifikan.
Kendati mendapat rentetan sentimen penekan dari berbagai sisi, kejatuhan harga komoditas ini sedikit tertahan oleh sejumlah dukungan makro yang membantu menjaga ketahanan harga dasar internasional. Penahan koreksi tersebut utamanya berasal dari kekhawatiran jangka panjang terkait ancaman fenomena cuaca ekstrem El Nino yang diprediksi akan mencapai puncaknya pada akhir tahun, yang berisiko mengganggu tingkat produksi panen global. Di samping itu, langkah kebijakan pemerintah Indonesia terkait kenaikan tarif bea keluar dan pungutan ekspor CPO turut memberikan bantalan sentimen yang membatasi ruang penurunan harga agar tidak terperosok lebih jauh ke zona merah.








