Rekomendasi Harga Kopi Arabika 29 September 2026

71

(Vibiznews – Commodity) Harga kopi arabika berakhir melonjak tajam pada hari Senin, 28 September 2026, terpicu kondisi kering di Brasil yang mengganggu produksi.

Harga kopi arabika berjangka kontrak Desember 2026 ditutup melonjak 3,64% pada $288,75 per pon.

Kekhawatiran bahwa kondisi kering di Brasil dapat mengganggu prospek panen kopi Brasil musim 2026/27—yang saat ini sedang berada pada tahap pembungaan yang krusial—memicu aksi short covering.

Ahli meteorologi dari Climatempo menyatakan pada hari Senin bahwa peluang hujan di wilayah Minas Gerais, Brasil—wilayah penghasil kopi arabika terbesar di negara tersebut—terbatas selama sepekan ke depan.

Harga kopi sempat berada di bawah tekanan selama sebulan terakhir dan mencatatkan level terendah dalam 3,25 bulan pada hari Rabu lalu akibat prospek pasokan global yang melimpah. Pada tanggal 10 September, International Coffee Organization (ICO) memproyeksikan rekor panen kopi global serta adanya surplus. ICO menyatakan bahwa produksi kopi global musim 2025/26 meningkat +4,4% secara tahunan (*year-on-year*) mencapai rekor 183,6 juta karung, sementara konsumsi turun -0,9% secara tahunan menjadi 180,6 juta karung; hal ini menghasilkan surplus pasar kopi global sebesar 3 juta karung, yang merupakan surplus pertama dalam lima tahun terakhir.

Arus ekspor dari Brasil turut menjadi beban utama pasar. Ekspor kopi Brasil pada Agustus tercatat melonjak 31 persen secara tahunan ke rekor 4,155 juta kantong, dan data awal September menunjukkan pengiriman masih meningkat lebih dari 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Volume besar kopi arabika Brasil yang terus mengalir ke gudang-gudang pemantauan ICE turut membuka peluang pengisian ulang stok bursa yang sebelumnya berada di titik terendah dalam 27 tahun.

Dari sisi cuaca, kondisi di sentra produksi utama Brasil relatif kondusif dalam beberapa pekan terakhir. Wilayah Minas Gerais dilaporkan menerima curah hujan jauh di atas rata-rata historis, sebuah faktor yang mendukung fase awal perkembangan tanaman untuk siklus panen 2027/2028 mendatang. Kondisi ini turut meredakan sebagian kekhawatiran pasar terhadap ketersediaan pasokan jangka panjang.

Kendati demikian, pelaku pasar tetap mewaspadai sejumlah faktor risiko yang berpotensi membalikkan arah harga secara tiba-tiba. Stok arabika bersertifikat di gudang ICE masih berada di level terendah dalam 27 tahun terakhir, sehingga pasar nyaris tidak memiliki bantalan penyangga bila terjadi gangguan pasokan mendadak. Selain itu, ancaman fenomena El Niño yang kuat masih membayangi tahap-tahap kritis siklus tanaman kopi ke depan, termasuk pembungaan, pembentukan buah, hingga pematangan biji, terutama pada periode Desember hingga Maret mendatang. Dampak gempa bumi yang sebelumnya melanda wilayah penghasil kopi di Kolombia, produsen arabika terbesar kedua dunia, juga masih menjadi faktor penopang harga di tengah tekanan jual yang dominan.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan pekan ini, harga kopi arabika masih akan dibayangi tren pelemahan seiring derasnya ekspor Brasil dan prospek surplus pasokan dunia yang terus membesar. Namun, minimnya stok bursa serta risiko cuaca jangka menengah membuat ruang koreksi ke atas tetap terbuka, sehingga volatilitas harga diperkirakan masih akan tinggi dalam sepekan ke depan. Harga kopi arabika diperkirakan bergerak menekan area Support di kisaran 280,00 hingga 271,00. Namun apabila muncul aksi beli merespons risiko cuaca atau rendahnya stok bursa, harga berpeluang merangkak naik menuju area Resistance di 294,00 hingga 300,00.