Rekomendasi Harga Kakao 7 Oktober 2026

98

(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka New York berakhir turun tajam pada hari Selasa, 6 Oktober 2026. Koreksi ini terjadi setelah dua sesi reli, akibat kenaikan inventaris kakao di gudang ICE yang kembali menekan sentimen pasar.

Kontrak berjangka kakao acuan Desember di bursa ICE New York ditutup turun 167 poin atau 2,85%, pada kisaran $5.700 per ton.

Tekanan jual muncul setelah inventaris kakao yang dipantau ICE naik ke level tertinggi dalam 2,25 tahun terakhir, yakni 3.538.981 kantong pada hari Selasa. Data pemerintah Pantai Gading juga menunjukkan petani telah mengirimkan 2,18 juta metrik ton kakao ke pelabuhan sepanjang tahun pemasaran internasional berjalan (1 Oktober 2025 hingga 27 September 2026), naik 19,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, faktor fundamental jangka menengah tetap memberi penopang harga. Survei awal perkebunan Pantai Gading menunjukkan pembentukan buah muda (cherelle) di bawah rata-rata, dengan estimasi produksi musim 2026/2027 sekitar 1,8 juta metrik ton, turun 18 persen dari sekitar 2,2 juta metrik ton pada musim sebelumnya. Kenaikan harga pembelian kakao di Ghana menjadi sekitar $3.647 per ton untuk musim 2026/27 juga memicu kekhawatiran penyelundupan biji kakao lintas batas yang dapat mengganggu aliran pasokan ke pasar internasional. Selain itu, hujan deras di Pantai Gading yang menghambat pengiriman ke pelabuhan dan prospek El Niño yang kuat di Afrika Barat masih menjadi perhatian pasar.

Dari sisi permintaan, sentimen masih beragam. Lindt & Sprüngli menurunkan harga cokelat untuk kedua kalinya tahun ini dan memangkas proyeksi pertumbuhan penjualan organik 2026 menjadi 0% hingga 2%. Namun, penggilingan kakao Asia pada kuartal kedua melonjak 25 persen secara tahunan menjadi 224.646 metrik ton, dan penggilingan Amerika Utara naik 7,7 persen, sehingga turut meredam kekhawatiran pelemahan permintaan global.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga kakao berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi, di tengah tarik-menarik antara tingginya stok gudang dan melimpahnya pengapalan Pantai Gading dan kekhawatiran gangguan pasokan serta prospek produksi musim 2026/2027 yang lebih ketat. Apabila sentimen tingginya inventaris kembali mendominasi, harga kakao berpeluang melanjutkan koreksi untuk menguji area support di kisaran 5.617 hingga 5.534 dolar AS per metrik ton. Sebaliknya, apabila kekhawatiran gangguan pengiriman, risiko penyelundupan, dan cuaca El Niño kembali menjadi sorotan, harga berpeluang rebound menguji area resistance di kisaran 5.836 hingga 5.972 dolar AS per metrik ton.