(Vibiznews – Commodity) Harga gula mentah di bursa komoditi berjangka internasional New York, berakhir hampir tidak berubah pada hari Rabu, 7 Oktober 2026.
Harga gula berjangka kontrak Maret 2027 ditutup naik 0,01 sen atau 0,05% pada kisaran 20,83 sen per pon. Sepanjang sesi, harga sempat mencetak level tertinggi 19 bulan untuk kontrak terdekat, sementara gula putih London menyentuh level tertinggi 22 bulan, namun hampir seluruh kenaikan terhapus menjelang penutupan.
Faktor utama yang membuat harga tertahan adalah aksi likuidasi posisi beli. Penguatan indeks dolar AS memicu tekanan jual dari pelaku pasar yang mengambil untung setelah reli tajam dalam sepekan terakhir, sehingga harga gula gagal bertahan di level tertinggi. Di sisi lain, hujan yang terus mengguyur wilayah Center-South Brasil masih memperlambat panen dan mengganggu penggilingan tebu di pabrik-pabrik gula, sehingga pasokan tertahan.
Di sisi fundamental, prospek pasokan global yang lebih ketat masih menopang harga. Departemen Pertanian AS melalui Foreign Agricultural Service (FAS) memangkas estimasi produksi gula Brasil musim 2026/27 menjadi 42,2 juta metrik ton dari 42,5 juta metrik ton, serta memangkas estimasi produksi India menjadi 29,5 juta metrik ton dari 33,6 juta metrik ton akibat cuaca buruk. Organisasi Gula Internasional (ISO) pada 1 September memperkirakan produksi gula global musim 2026/27 turun 1 persen secara tahunan menjadi 180,1 juta metrik ton, dengan defisit sebesar 200 ribu metrik ton, berbanding surplus 1,1 juta metrik ton pada musim 2025/26. Thai Sugar Millers Corp turut memproyeksikan produksi gula Thailand berpotensi anjlok 17 persen secara tahunan menjadi 10 juta metrik ton, sementara kekhawatiran terhadap El Nino yang diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat dalam lebih dari 75 tahun masih membayangi Brasil, India, dan Thailand.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga gula mentah berpotensi masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah, seiring aksi profit taking dan likuidasi posisi beli yang dipicu penguatan dolar AS setelah reli tajam sepekan terakhir. Harga gula mentah diperkirakan akan bergerak menguji kisaran support terdekat di 20,25 hingga 19,68. Namun, apabila gangguan panen di Brasil dan ancaman El Nino kembali memicu aksi beli, pergerakan harga berpeluang berbalik arah menuju kisaran resistance 21,32 hingga 21,82.








