(Vibiznews – Forex) Pasangan mata uang EUR/USD berakhir turun pada akhir pekan hari Jumat, 9 Oktober 2026, tertekan penguatan dolar AS dan masih berada dekat level terendah dalam 16 bulan.
Pasangan mata uang EUR/USD ditutup turun 0,08% pada 1.1202. Secara mingguan, EUR/USD melemah sekitar 0,5%.
Euro sempat menguat di awal sesi dan naik ke 1.12249 setelah rebound dari level terendah 1.1171 pada hari Kamis. Namun euro berbalik turun setelah dolar AS menguat terdukung imbal hasil Treasury AS. Yield Treasury 10 tahun bertahan di sekitar 5,3%, level tertinggi sejak 2002. Indeks dolar AS ditutup naik 0,09% pada 102,21.
Euro juga tertahan oleh meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga ECB. Sejumlah pejabat ECB menyatakan tidak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga lagi.
Pasar memperhitungkan peluang 12% bagi ECB untuk menaikkan suku bunga 25 basis poin pada rapat 29 Oktober.
Selain itu, kekhawatiran fiskal di Prancis dan tingginya harga energi terus membebani sentimen euro.
Namun euro masih memiliki sejumlah faktor pendukung. Kementerian Ekonomi Jerman menaikkan perkiraan PDB Jerman 2026 menjadi 1,3% dari 0,5%.
Ringkasan rapat ECB bulan September juga menunjukkan para pejabat memperingatkan perlunya kenaikan suku bunga lebih lanjut untuk meredam inflasi.
Eskalasi akhir pekan menjadi risiko bagi Euro
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat di akhir pekan. Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi melaporkan sedikitnya 12 orang tewas dan ratusan orang terluka dalam serangan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, pada Sabtu, 10 Oktober. Presiden AS Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan bergabung dengan Arab Saudi dalam aksi balasan terhadap Houthi di Yaman. Sebelumnya, Trump pada Sabtu juga kembali membuka peluang serangan militer terhadap Iran.
Eskalasi ini berpotensi mendorong harga minyak kembali naik. Brent sempat melampaui US$104 per barel pada 8 Oktober. Kenaikan harga minyak negatif bagi ekonomi Zona Euro dan euro, mengingat Eropa mengimpor sebagian besar kebutuhan energinya. Kenaikan minyak juga dapat memperkuat ekspektasi inflasi dan sikap hawkish The Fed, sehingga mendukung dolar AS.
Rapat FOMC berikutnya digelar 27-28 Oktober, dan data CPI AS bulan September dirilis Rabu, 14 Oktober. CPI utama diperkirakan naik 0,6% secara bulanan (3,6% secara tahunan), dan CPI inti 0,2%.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, mata uang Euro dapat bergerak melemah di awal pekan jika harga minyak dan dolar AS naik terpicu eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama serangan terhadap bandara Arab Saudi dan rencana keterlibatan AS melawan Houthi di Yaman. Namun jika harga minyak dan dolar AS turun terpicu sinyal positif dari diplomasi AS-Iran, atau jika pernyataan pejabat ECB bernada hawkish bagi kebijakan suku bunga ECB, akan menguatkan Euro. Pasangan mata uang EUR/USD diperkirakan bergerak dalam kisaran Support 1.1179-1.1156. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance 1.1234-1.1266.








