Rekomendasi Harga Gula 15 Oktober 2026

101

(Vibiznews – Commodity) Harga gula mentah di bursa komoditi berjangka internasional New York, berakhir turun pada hari Rabu, 14 Oktober 2026.

Harga gula berjangka kontrak Maret 2027 ditutup turun 0,27 sen atau 1,28% pada 20,84 sen per pon. Sepanjang sesi, harga bergerak di kisaran 20,80 hingga 21,29 sen. Harga sempat melonjak menembus level tertinggi kontrak di 21,24 hingga menyentuh 21,29, namun langsung berbalik turun dan ditutup mendekati level terendah harian. Gula putih London kontrak Desember ditutup turun 7,00 poin atau 1,25% pada 554,90 dolar AS per ton, gagal mencapai target teknikal di 567,10 hingga 567,70.

Faktor utama yang menekan harga adalah minimnya partisipasi dana besar. Lonjakan ke atas 21,24 hanya didorong pelaku spekulatif kecil dan tidak diikuti dana besar, sehingga minat beli lanjutan tidak muncul dan harga kembali ke paruh bawah kisaran harian. Volume perdagangan juga rendah untuk sesi ketiga berturut-turut.

Dari sisi eksternal, dolar AS menguat setelah data inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan, dengan indeks dolar naik sekitar 0,31% ke dekat 102,5, yang biasanya menekan harga komoditas berdenominasi dolar.

Sementara itu, harga minyak Brent masih bertahan di atas 106 dolar AS per barel, sehingga daya tarik etanol bagi pabrik di Brasil tetap terjaga.

Di sisi fundamental, prospek defisit pasokan global masih menopang harga. Organisasi Gula Internasional (ISO) pada 1 September memperkirakan produksi gula global musim 2026/27 turun 1 persen secara tahunan menjadi 180,1 juta metrik ton, dengan defisit sebesar 200 ribu metrik ton, berbanding surplus 1,1 juta metrik ton pada musim 2025/26. Thai Sugar Millers Corp memproyeksikan produksi gula Thailand berpotensi anjlok 17 persen secara tahunan menjadi 10 juta metrik ton, sementara Departemen Pertanian AS memangkas estimasi produksi Brasil menjadi 42,2 juta metrik ton dan India menjadi 29,5 juta metrik ton akibat cuaca buruk. Di sisi lain, USDA masih memperkirakan stok akhir gula global 2026/27 naik 2,0% secara tahunan menjadi 44,41 juta metrik ton, dan kekhawatiran terhadap super El Nino masih membayangi Brasil, India, dan Thailand.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga gula mentah berpotensi masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah, seiring gagalnya penembusan level tertinggi kontrak, minimnya dukungan dana besar, dan penguatan dolar AS, serta aksi profit taking dari posisi beli spekulatif yang masih besar. Harga gula mentah diperkirakan akan bergerak menguji kisaran support terdekat di 20,66 hingga 20,49. Namun, apabila gangguan panen di Brasil dan ancaman El Nino kembali memicu aksi beli, pergerakan harga berpeluang berbalik arah menuju kisaran resistance 21,15 hingga 21,47.