(Vibiznews – Commodity) Harga gula mentah di bursa komoditi berjangka internasional New York, berakhir naik pada hari Kamis, 15 Oktober 2026.
Harga gula berjangka kontrak Maret 2027 ditutup naik 0,29 sen atau 1,39% pada 21,13 sen per pon. Sepanjang sesi, harga bergerak di kisaran 20,60 hingga 21,22 sen, dan sempat menyentuh 21,22 sebelum tertahan di bawah level tertinggi kontrak di 21,29. Pada perdagangan gula putih London, kontrak Desember bergerak di kisaran 548,80 hingga 561,70 dolar AS per ton, dengan setiap kenaikan diikuti aksi penyesuaian posisi dan ambil untung.
Faktor utama yang mendorong harga adalah dukungan beli dari pelaku spekulatif. Spekulan terus menahan harga tetap kuat dan sempat mendorong kontrak Maret ke 21,22, namun kenaikan itu tertahan aksi jual bertahap di level atas karena belum ada partisipasi dana besar yang lebih luas.
Dukungan juga datang dari harga minyak yang kembali naik, dengan WTI melonjak sekitar 2% hingga 3% ke kisaran 98 dolar AS per barel dan Brent bertahan di atas 105 dolar AS per barel, sehingga etanol tetap menarik bagi pabrik di Brasil dan membatasi pasokan gula.
Sementara itu, hujan di Brasil yang memperlambat panen dan kekhawatiran terhadap super El Nino masih menjadi sentimen positif.
Di sisi fundamental, prospek defisit pasokan global masih menopang harga. Organisasi Gula Internasional (ISO) pada 1 September memperkirakan produksi gula global musim 2026/27 turun 1 persen secara tahunan menjadi 180,1 juta metrik ton, dengan defisit sebesar 200 ribu metrik ton, berbanding surplus 1,1 juta metrik ton pada musim 2025/26. Thai Sugar Millers Corp memproyeksikan produksi gula Thailand berpotensi anjlok 17 persen secara tahunan menjadi 10 juta metrik ton, sementara Departemen Pertanian AS memangkas estimasi produksi Brasil menjadi 42,2 juta metrik ton dan India menjadi 29,5 juta metrik ton akibat cuaca buruk. Di sisi lain, USDA masih memperkirakan stok akhir gula global 2026/27 naik 2,0% secara tahunan menjadi 44,41 juta metrik ton, sehingga ruang penguatan lanjutan relatif terbatas.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga gula mentah berpotensi masih bergerak dalam fase konsolidasi di dekat level tertinggi dengan kecenderungan menguat terbatas, seiring dukungan spekulan, kenaikan harga minyak, dan risiko cuaca, namun tertahan aksi jual di level atas serta minimnya partisipasi dana besar. Harga gula mentah diperkirakan akan bergerak menguji kisaran resistance terdekat di 21,37 hingga 21,60. Namun, apabila aksi ambil untung kembali menekan pasar, pergerakan harga berpeluang berbalik arah menuju kisaran support 20,75 hingga 20,36.








