(Vibiznews – IDX) – Dalam perdagangan bursa saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Senin siang ini (19/10) terpantau merosot 5% ke level 4.925, setelah dibuka turun 223 poin (4,31%) ke level 4.961,87 dari penutupan sebelumnya di 5.185,10.
Tekanan jual dipicu kekhawatiran pelaku pasar atas rencana MSCI membuka konsultasi terkait kemungkinan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia. Sentimen ini melanjutkan koreksi tajam pekan lalu, ketika IHSG ditutup anjlok 14,91% dalam sepekan ke posisi 5.185,1 pada Jumat (16/10).
Sementara itu, bursa kawasan Asia siang ini bergerak mixed cenderung melemah, dipimpin saham sektor teknologi di tengah kekhawatiran pendanaan AI dan ketegangan geopolitik Timur Tengah.
Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) siang ini melemah ke kisaran Rp18.045 per dollar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp18.027. Rupiah tertekan oleh sentimen negatif dari anjloknya IHSG, serta eskalasi Timur Tengah dan perang Ukraina–Russia yang kembali mendorong harga minyak dunia. Dari sisi eksternal, inflasi AS yang meningkat dan potensi suku bunga tinggi lebih lama turut membebani mata uang Garuda.
Mengawali perdagangannya, IHSG terpantau melemah 223,23 poin (4,31%) ke level 4.961,88. Sedangkan indeks LQ45 turun 28,06 poin (5,52%) ke level 480,50. Siang ini IHSG tertekan lebih dalam, bergerak di rentang 4.807 hingga 4.974.
Tercatat saat ini 748 saham turun, hanya 34 saham naik dan 17 saham stagnan, dengan volume transaksi 14 miliar saham senilai Rp8,05 triliun. Seluruh sektor ikut tertekan. Saham-saham big cap perbankan turut ambles, di antaranya BBCA turun 6,86% ke Rp4.820, BBRI melemah 6,06% ke Rp2.480, dan BMRI turun 3,83% ke Rp3.260. Di sisi lain, BEI menyesuaikan batas auto rejection bawah menjadi 7 persen mulai 19 Oktober hingga 31 Desember 2026 untuk menjaga volatilitas pasar.
Sementara itu, bursa regional siang ini terpantau mixed melemah, di antaranya Nikkei yang merosot sekitar 2,2% ke bawah level 64.000, terendah dalam satu bulan, dan Shanghai yang turun 0,49%. Bursa Hong Kong libur.
Analis Vibiz Research Center melihat pergerakan bursa kali ini tertekan dipicu sentimen MSCI dan tekanan jual asing, sementara bursa kawasan Asia umumnya mixed bias melemah dipimpin sektor teknologi di antara fluktuasi harga minyak dunia akibat tensi geopolitik Timur Tengah dan Ukraina.
Berikutnya IHSG kemungkinan masih dalam tekanan dan volatil. Bila level psikologis 5.000 gagal direbut kembali, indeks berisiko melanjutkan pelemahan menuju rentang 4.896–4.868. Sebaliknya, bila mampu menembus kembali area 4.964–5.004, IHSG berpeluang rebound menuju resistance 5.032







