(Vibiznews – Banking) – Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 20-21 Oktober 2026 mempertahankan BI-Rate di 5,75% dan Lending Facility di 6,50%, tetapi menaikkan Deposit Facility menjadi 5,00%. Kenaikan Deposit Facility tersebut sebesar 25 basis poin. Dengan keputusan ini, BI-Rate bertahan di level yang sama untuk keempat kalinya berturut-turut sejak kenaikan terakhir pada Juni 2026.
Rupiah Tetap Jadi Prioritas
BI menyatakan kebijakan moneter ini konsisten dengan strategi stabilisasi rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat, serta upaya menjaga inflasi dalam sasaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027. Rupiah sempat menguat hingga pertengahan September, tetapi pada 20 Oktober ditutup di Rp17.985 per dolar AS, melemah 0,61% dibandingkan akhir September. BI menyebut pelemahan ini dipengaruhi eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, pengetatan kebijakan moneter AS, dan sentimen investor asing di pasar saham.
Secara historis, BI-Rate berada di 4,75% sepanjang Januari-April 2026, lalu dinaikkan bertahap hingga 5,75% pada Mei-Juni. Setelah itu BI menahannya pada RDG Juli, Agustus, dan September.
Bauran Kebijakan: Insentif Lindung Nilai Diperkuat
Insentif untuk instrumen DNDF Lindung Nilai kepada BI ditingkatkan, dengan pengurangan premi untuk tenor 6 bulan naik ke 40% dan tenor 12 bulan ke 45%. Insentif Swap Beli Lindung Nilai Konvensional dilanjutkan, dengan pengurangan premi 15% untuk tenor 3 bulan, 20% untuk 6 bulan, dan 25% untuk 12 bulan. Sejak berlaku pada Juni 2026 hingga 20 Oktober, kebijakan insentif ini mencatat aliran masuk modal asing sebesar US$9,9 miliar.
GWM Diturunkan Bertahap
Untuk memperkuat likuiditas rupiah, BI menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) bank umum konvensional dari 9% menjadi 7%, yakni 8% mulai 1 November dan 7% mulai 1 Desember 2026. Untuk bank umum syariah dan unit usaha syariah, GWM turun dari 7,5% menjadi 5,5% dengan tahapan serupa. Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) ditetapkan 5% mulai 1 Desember 2026, terdiri atas financing channel maksimal 3% dari DPK dan pendalaman pasar uang maksimal 2%.
Makroprudensial Tetap Longgar
BI memperpanjang LTV/FTV properti 100% untuk semua jenis properti serta uang muka kendaraan bermotor minimal 0%, yang semula berakhir 31 Desember 2026, hingga 31 Desember 2027, dengan syarat bank memenuhi kriteria NPL/NPF tertentu. Rasio Intermediasi Makroprudensial dipertahankan di kisaran 84-94% dan CCyB tetap 0%.
Prospek Global dan Domestik
BI menilai prospek ekonomi global masih lemah, dengan pertumbuhan 2026 sekitar 3,0% dan inflasi global sekitar 4,6%. BI juga memperkirakan kebijakan moneter global yang ketat berlangsung lebih lama, termasuk peluang kenaikan kembali Fed Funds Rate. Untuk Indonesia, BI memprakirakan pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 4,9-5,7%, ditopang stimulus pemerintah, konsumsi rumah tangga yang terjaga, dan PMI manufaktur yang ekspansif.
Inflasi Terkendali, Kredit Tumbuh Dua Digit
Inflasi IHK September 2026 tercatat 3,28% yoy, naik dari 3,19% pada Agustus, dengan inflasi inti turun ke 2,84% dan inflasi volatile food naik ke 5,03% akibat gangguan cuaca di sentra produksi. Kredit perbankan September tumbuh 13,26% yoy, dengan kredit investasi tumbuh 23,20%, sementara DPK tumbuh lebih rendah di 8,22%. BI memprakirakan pertumbuhan kredit 2026 di kisaran 8-12%. Ketahanan perbankan terjaga, dengan CAR 24,10% dan NPL bruto 2,11% pada Agustus.
Neraca Pembayaran dan Cadangan Devisa
Neraca perdagangan Agustus mencatat surplus US$3,55 miliar, naik dari US$0,12 miliar pada Juli. Investasi portofolio asing pada triwulan III mencatat net outflows US$0,08 miliar, terutama dari saham. Tekanan jual di saham berlanjut pada Oktober, tetapi SRBI dan SBN mencatat inflows, sehingga triwulan IV hingga 19 Oktober membukukan net inflows US$0,66 miliar. Cadangan devisa akhir September sebesar US$146,3 miliar, setara 5,3 bulan impor.
Sistem Pembayaran Digital
Transaksi pembayaran digital triwulan III mencapai 18,09 miliar transaksi atau tumbuh 39,24% yoy, dengan QRIS tumbuh 75,80% yoy. Pengguna QRIS mencapai 70,6 juta dan merchant 49,4 juta. BI juga akan memperluas QRIS Antarnegara lewat sandboxing koridor Timor Leste dan Hong Kong mulai triwulan IV 2026.
Pesan utama RDG Oktober adalah BI memilih mengoptimalkan instrumen non-suku bunga untuk menopang rupiah, sambil menjaga ruang pertumbuhan kredit. Kenaikan Deposit Facility menaikkan batas bawah suku bunga pasar uang, sementara penurunan GWM menambah likuiditas perbankan. Dua langkah ini berjalan beriringan. BI menyatakan akan terus mengoptimalkan instrumen moneter, termasuk menempuh langkah penyesuaian yang diperlukan untuk menjaga stabilitas. Pernyataan itu menandakan pintu pengetatan lanjutan belum tertutup jika tekanan rupiah berlanjut.
Ke depan, pasar akan mencermati arah Fed Funds Rate, harga minyak dan perkembangan Timur Tengah, arus modal asing di saham, serta efektivitas penurunan GWM mulai 1 November dan 1 Desember terhadap penyaluran kredit. RDG berikutnya dijadwalkan 17-18 November 2026.







