(Vibiznews – Bonds) Imbal hasil Treasury AS turun tajam pada hari Kamis, 22 Oktober 2026, seiring dengan langkah investor beralih ke aset aman di tengah aksi jual besar-besaran di pasar saham.
Aksi jual ini dipicu oleh kekhawatiran seputar sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence) serta lonjakan harga minyak.
Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun — yang menjadi acuan untuk suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR), kredit kendaraan bermotor, dan utang kartu kredit — turun lebih 14 basis poin menjadi 5,0%.
Imbal hasil Treasury AS tenor 2 tahun, yang lebih sensitif terhadap keputusan suku bunga jangka pendek Federal Reserve, turun 13 basis poin menjadi 4,689%.
Sementara itu, imbal hasil Ttreasury AS tenor 30 tahun — yang sering kali dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik — turun lebih 11 basis poin menjadi 5,322%.
Pergerakan ini terjadi saat pasar saham berada di bawah tekanan, menyusul pernyataan CEO Nvidia, Jensen Huang, yang mengungkapkan bahwa meskipun permintaan untuk infrastruktur komputasi awan (cloud) sangat luar biasa tinggi, ketersediaan modal justru terbatas.
Selain itu, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah turut memperkuat sentimen penghindaran risiko (risk-off) di pasar pada sesi tersebut. Harga minyak melonjak tajam pada hari Kamis, dengan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mendekati level $100 per barel dalam perdagangan awal, naik lebih dari 2% hingga menembus angka $99 per barel. Minyak mentah Brent, yang menjadi acuan harga global, juga naik lebih dari 2% hingga berada di atas $111 per barel.
Kenaikan ini menyusul laporan dari New York Times—yang mengutip sejumlah pejabat AS yang tidak disebutkan namanya—bahwa Amerika Serikat dan Israel tengah mempertimbangkan untuk kembali melancarkan serangan terhadap Iran melalui operasi yang “singkat namun intensif” setelah pemilihan umum paruh waktu (midterm elections) bulan depan.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, imbal hasil Treasury AS akan bergerak merosot seiring langkah investor beralih ke aset aman di tengah aksi jual besar-besaran di pasar saham.






