(Vibiznews – Commodity) Harga jagung di bursa komoditi berjangka Chicago Board of Trade (CBOT) berakhir sedikit melemah pada hari Senin, 26 Oktober 2026.
Harga jagung berjangka kontrak Desember 2026 ditutup turun 1 sen pada 4,55 dolar AS per bushel, setelah turun 4½ sen pada hari Jumat ke 4,56 dolar AS. Kontrak Maret 2027 ditutup di sekitar 4,69 dolar AS per bushel. Pada pekan lalu, kontrak Desember kehilangan 18¼ sen, penurunan mingguan keempat berturut-turut, dengan penutupan terendah sejak awal Juli atau sekitar tiga setengah bulan. Penurunan ini jauh dari puncak awal September, ketika kontrak Desember sempat berada di kisaran 5,46 dolar AS.
Faktor utama yang menekan harga adalah tekanan panen dan likuidasi posisi beli dana spekulatif. Laporan WASDE Oktober menaikkan proyeksi produksi jagung AS menjadi sekitar 16,03 miliar bushel, sekitar 300 juta bushel di atas ekspektasi pasar, sementara stok akhir naik 18% dan rasio stok terhadap penggunaan naik ke 11,3%. Cuaca yang mendukung membuat panen berjalan lancar, dan petani menjual hasil panen sambil melakukan lindung nilai. Data Commitments of Traders menunjukkan dana spekulatif memangkas 84.620 kontrak dari posisi beli bersih mereka menjadi 146.257 kontrak per 20 Oktober, pemangkasan mingguan terbesar ketiga berturut-turut, dibandingkan 426.842 kontrak pada 15 September. Dari sisi permintaan, komitmen ekspor musim 2026/27 masih tertinggal sekitar 34% dari tahun lalu, dan nilai pengapalan mingguan turun 43% ke 780.300 ton.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga jagung berpotensi masih bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah, seiring tekanan panen dan lemahnya pengapalan ekspor, meski area jenuh jual membuka peluang pantulan teknikal. Harga diperkirakan akan menguji kisaran support terdekat di 4,47 hingga 4,40 dolar AS per bushel. Namun, apabila penjualan ekspor kembali kuat dan panen terhambat, pergerakan harga berpeluang berbalik arah menuju kisaran resistance 4,60 hingga 4,69 dolar AS per bushel, dengan rata-rata pergerakan 200 hari di sekitar 4,80 dolar AS sebagai hambatan berikutnya.








