Neraca Dagang Indonesia September 2026 Surplus US$3,36 Miliar, Ekspor Naik 11,87% dan Impor Naik 18,41%

115

(Vibiznews – Economy & Business) Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia kembali surplus US$3,36 miliar pada September 2026. Capaian ini lebih rendah dibandingkan surplus Agustus 2026 sebesar US$3,55 miliar, namun masih lebih tinggi dari proyeksi sejumlah ekonom yang berada di kisaran US$1 miliar hingga US$1,79 miliar. Surplus ditopang kinerja perdagangan nonmigas, sementara sektor migas masih defisit.

“Pada September 2026, neraca perdagangan barang mengalami surplus sebesar US$3,36 miliar,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Ringkasan Data September 2026

Indikator Nilai (US$ miliar) Pertumbuhan YoY
Neraca perdagangan 3,36 Agustus 2026: 3,55
Ekspor total 27,59 +11,87%
Ekspor nonmigas 26,64 +12,39%
Ekspor migas 0,95 -0,99%
Impor total 24,23 +18,41%
Impor nonmigas 20,96 +17,59%
Impor migas 3,27 +23,94%
Neraca nonmigas +5,67 –
Neraca migas -2,31 –

Ekspor: Industri Pengolahan Jadi Motor Utama

Nilai ekspor Indonesia pada September 2026 mencapai US$27,59 miliar, naik 11,87% dibandingkan September 2025. Kenaikan ini hampir seluruhnya berasal dari ekspor nonmigas yang tumbuh 12,39% menjadi US$26,64 miliar. Ekspor migas justru turun tipis 0,99% menjadi US$0,95 miliar.

Sektor industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar dengan nilai US$23,27 miliar, melonjak 16,78% secara tahunan. Dari sisi komoditas, ekspor lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) yang mencakup CPO dan turunannya meroket 89,04% secara tahunan dan menjadi pendorong utama. Ekspor tembaga juga ikut menopang kinerja bulan ini.

Impor: Bahan Baku Mendominasi, Barang Modal Nyaris Stagnan

Nilai impor September 2026 tercatat US$24,23 miliar, naik 18,41% secara tahunan. Impor nonmigas mencapai US$20,96 miliar (+17,59%), sedangkan impor migas naik 23,94% menjadi US$3,27 miliar.

Berdasarkan golongan penggunaan, seluruh kelompok impor meningkat:

  • Bahan baku/penolong: US$17,19 miliar, naik 24,65% dan menjadi penyumbang terbesar kenaikan impor.
  • Barang konsumsi: US$2,24 miliar, naik 15,98%.
  • Barang modal: US$4,80 miliar, naik hanya 1,25%.

Pertumbuhan impor barang modal yang sangat tipis menjadi catatan tersendiri. Kondisi ini mengindikasikan bahwa ekspansi kapasitas produksi dan investasi baru belum menguat sejalan dengan lonjakan impor bahan baku.

Neraca Migas Masih Defisit, Nonmigas Jadi Penyangga

Surplus September ditopang surplus perdagangan nonmigas sebesar US$5,67 miliar, yang kemudian tergerus defisit migas US$2,31 miliar. Defisit migas bulan ini lebih kecil dibandingkan Juni 2026 (US$3,49 miliar) dan Juli 2026 (US$2,98 miliar), meski impor migas secara tahunan masih tumbuh dua digit di tengah kenaikan harga minyak.

Kinerja Kumulatif Januari–September 2026

Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari–September 2026 mencatat surplus US$10,61 miliar, dengan rincian:

  • Ekspor: US$221,23 miliar, naik 5,58% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ekspor nonmigas sebesar US$212,27 miliar (+6,30%), ekspor migas US$8,96 miliar (-9,11%).
  • Impor: US$210,63 miliar, naik 19,67%. Impor nonmigas US$178,06 miliar (+16,92%), impor migas US$32,57 miliar (+37,35%).
  • Neraca nonmigas: surplus US$34,21 miliar, sedangkan neraca migas defisit US$23,60 miliar.

Cina, Amerika Serikat, dan India menjadi tiga tujuan utama ekspor nonmigas dengan kontribusi 44,55%. Ekspor nonmigas ke Cina saja mencapai US$54,17 miliar, tumbuh 16,70%, sementara ekspor ke Uni Eropa dan sejumlah negara tujuan lain mengalami penurunan. Untuk komoditas, ekspor CPO dan turunannya tumbuh 16,14%, batu bara 4,86%, dan besi baja 4,15%.

Di sisi impor, bahan baku/penolong mencapai US$150,57 miliar (+21,11%), barang modal US$41,55 miliar (+16,49%), dan barang konsumsi US$18,51 miliar (+15,54%). Impor mesin dan perlengkapan elektrik naik 23,30%, plastik dan barang dari plastik 20,20%, serta mesin dan peralatan mekanik 13,47%.

Pulih Setelah Dua Bulan Defisit

Surplus September menjadi bulan ketiga berturut-turut neraca dagang kembali ke zona positif. Sebelumnya, neraca perdagangan sempat defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026 dan US$0,45 miliar pada Juni 2026, memutus tren surplus panjang sejak Mei 2020. Surplus kemudian pulih tipis US$0,12 miliar pada Juli, lalu naik ke US$3,55 miliar pada Agustus dan US$3,36 miliar pada September.

Namun, kualitas surplus tahun ini jauh lebih rendah. Surplus kumulatif Januari–September 2026 sebesar US$10,61 miliar tertinggal jauh dari surplus periode yang sama 2025 yang saat itu dilaporkan US$33,48 miliar, akibat impor yang tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan ekspor.

Analisis dan Prospek

Rilis ini memberikan sentimen yang relatif positif karena surplus melampaui ekspektasi pasar dan ekspor tumbuh solid di atas 10%. Meski demikian, beberapa hal perlu dicermati ke depan:

  1. Selisih pertumbuhan impor dan ekspor. Impor tumbuh 18,41% pada September, jauh di atas ekspor 11,87%. Jika pola ini berlanjut, surplus bulanan berpotensi menyempit pada rilis-rilis berikutnya.
  2. Defisit migas. Kenaikan harga minyak berisiko menjaga impor migas tetap tinggi dan membebani neraca perdagangan secara keseluruhan.
  3. Ketergantungan pada komoditas dan pasar Cina. Ekspor nonmigas sangat bertumpu pada CPO, besi baja, dan batu bara dengan Cina sebagai pasar terbesar, sehingga permintaan dan harga komoditas global tetap menjadi faktor penentu.
  4. Sinyal investasi. Impor barang modal yang hanya naik 1,25% menjadi indikator yang layak dipantau untuk melihat kekuatan ekspansi industri domestik.

Pelaku pasar akan menantikan rilis data perdagangan Oktober 2026 untuk memastikan apakah surplus dapat bertahan di kisaran US$3 miliar atau kembali menyempit.