Harga gula berjangka ICE ditutup naik pada akhir perdagangan bursa ICE Futures New York Kamis dinihari (01/12). Harga komoditas ini mengalami penguatan setelah kesepakatan OPEC untuk memotong produksi minyak sehingga mendorong harga minyak mentah melonjak tinggi.
Harga minyak mentah melonjak 9 persen pada akhir perdagangan Kamis dinihari (01/12), setelah OPEC, kelompok negara produsen minyak terbesar di dunia sepakat untuk mengekang produksi minyak untuk pertama kalinya sejak 2008 dalam upaya terakhir untuk mendukung harga.
Harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik $ 4,21, atau 9,3 persen, ke $ 49,44 per barel. Kontrak tersebut naik 5,5 persen di bulan November.
Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari naik $ 4,07, atau 8,8 persen, pada $ 50,45 per barel. Kontrak yang berakhir Rabu dan pada kecepatan untuk keuntungan lebih dari 4 persen pada bulan ini. Minyak mentah Brent untuk pengiriman Februari naik $ 4,40 pada $ 51,72 per barel.
Para pedagang mengantisipasi bahwa harga minyak yang lebih tinggi akan mendorong produsen tebu lebih memilih mengkonversi tebu menjadi etanol dibandingkan gula, sehingga produksi gula menurun dan semakin meningkatkan harga gula.
Pada penutupan perdagangan dini hari tadi harga gula berjangka untuk kontrak paling aktif yaitu kontrak Maret 2017 terpantau menguat. Harga gula berjangka paling aktif tersebut ditutup naik sebesar 0,15 sen atau setara dengan 0,76 persen pada posisi 19,81 sen per pon.
Malam nanti akan dirilis data ISM Manufacturing PMI November AS yang diindikasikan meningkat dari hasil sebelumnya. Jika hasil ini terealisir, akan menguatkan dollar AS.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan bahwa harga gula berjangka untuk perdagangan selanjutnya berpotensi turun dengan penguatan dollar AS. Harga gula kasar berjangka di ICE Futures New York berpotensi mengetes level Support pada 19,30 sen dan 18,80 sen. Sedangkan level Resistance yang akan diuji jika terjadi kenaikan harga ada pada posisi 20,30 sen dan 20,80 sen.
Freddy/VMN/VBN/Analyst-Vibiz Research Center Editor: Asido Situmorang



