(Vibiznews – Commodity) – Harga kakao berjangka yang diperdagangkan di bursa ICE New York hari Kamis yang berakhir hari Jumat (17/01) kembali meningkat melanjutkan trend perdagangan sebelumnya dan harga sempat naik ke posisi tertinggi dalam 4 hari perdagangan. Namun terjadi retreat pada perdagangan cocoa ICE London.
Harga kakao NY bergerak lebih tinggi di tengah kekhawatiran tanaman di Afrika Barat setelah Radiant Solutions mengatakan dalam sebuah laporan semalam bahwa lebih sedikit kelembaban tanah di daerah kakao di Afrika Barat. Kemudian data terbaru dari Pusat Prediksi Iklim AS menunjukkan curah hujan di bawah rata-rata di sebagian besar Pantai Gading dari 6-12 Januari.
Untuk retreatnya harga kakao di London oleh tingginya kurs poundsterling ke tertinggi 2 bulan, karena kakao London dihargai dalam pound. Kakao di London pernah jatuh ke level terendah 4-minggu pada tanda-tanda produksi kakao yang kuat di Afrika Barat.
Harga kakao berjangka untuk kontrak paling ramai yaitu bulan Maret di ICE New York naik 13 atau 0,56 persen pada posisi $2.335 per ton. Untuk harga kakao di bursa London turun 3 atau 0,18% berada pada posisi 1,684 pound per ton.
Perdagangan sebelumnya harga kakao New York turun ke level terendah 3-minggu pada dan kakao London jatuh ke level terendah 4-minggu pada tanda-tanda produksi kakao yang kuat di Afrika Barat. Data hari Senin dari Pantai Gading, produsen kakao terbesar di dunia, menunjukkan bahwa petani Pantai Gading mengirim 1,19 MMT kakao ke pelabuhan selama 1 Oktober-13 Januari, naik 12,2% dari waktu yang sama tahun lalu. Juga, data dari Ghana, produsen kakao terbesar kedua di dunia, menunjukkan hasil yang kuat setelah Dewan Kakao Ghana melaporkan bahwa pembelian kakao dari petani kakao Ghana naik + 4,7% y/y menjadi 455.663 MT selama dua belas minggu pertama panen dari Oktober 5-Des 28.
Untuk perdagangan selanjutnya harga kakao berjangka yang diperdagangkan di bursa New York akhir sesi pada esok hari diperkirakan naik kembali oleh proyeksi pelemahan dolar AS.
Jul Allens/ Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting Group Editor: Asido Situmorang