(Vibiznews – Commodity) – Mengakhiri perdagangan minyak mentah berjangka di pasar komoditas internasional awal pekan Selasa (07/01/2020), keuntungan terpangkas oleh aksi profit taking pasar di sesi Amerika sehingga membuat harga rekor tinggi terkoreksi. Investor tampaknya mulai mengabaikan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang sebelumnya jadi sentimen positif.
Harga minyak mentah Brent turun 0,3% ke posisi $ 68,53 setelah sempat berada di posisi harga $ 70 per barel, tertinggi sejak 28 Mei. Demikian juga harga minyak mentah West Texas Intermediate AS turun 0,4% menjadi $ 62,49 per barel setelah sempat mendaki di $63,97 per barel, tertinggi sejak 25 April.
Harga minyak pada awal sesi naik lebih dari 2%, yang memperpanjang kenaikan lebih dari 3% pada hari Jumat. Namun terpangkas mengikuti sentimen perdagangan bursa saham Wall Street yang bangkit dari pelemahan perdagangan akjir pekan lalu.
Ketakutan Perang AS-Iran Pudar, Bursa Amerika Cetak Untung https://t.co/cgcuNHdQIO#Iranattack #IranvsUSA #forex #saham #trading #america #bursa pic.twitter.com/lt5xmxrL82
— vibiznews.com (@vibiznews) January 6, 2020
Sentimen positif awal sesi datang dari pemberitaan Presiden Trump mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap Irak dan tagihan miliaran dolar jika AS terpaksa meninggalkan negara itu pasca keputusan parlemen mengusir pasukan AS. Trump juga mengancam akan menyerang beberapa situs di Iran jika negara itu membalas atas pembunuhan jenderal Iran Soleimani. Sementara itu, Iran mengumumkan akan meninggalkan batas kesepakatan nuklir 2015.
Untuk pergerakan selanjutnya, harga minyak mentah berjangka WTI diperkirakan akan terus terkoreksi dan menuju posisi support di 61.82 – 60,80. Namun jika bergerak kuat kembali akan mendaki ke posisi resisten 64,88 – 65,15.
Jul Allens, Senior Analyst, Vibiz Research Center, Vibiz Consulting



