Akhir 2019 Uang Beredar Tumbuh Melambat; Kredit Perbankan Menurun

862

(Vibiznews – Banking & Economy) – Likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh melambat pada Desember 2019 jika dibandingkan dengan pertumbuhan bulan November, demikian rilis Bank Indonesia, Jumat ini (31/01).

Posisi M2 pada Desember 2019 tercatat Rp6.136,5 triliun atau tumbuh 6,5% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 7,1% (yoy). Perlambatan pertumbuhan M2 disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan komponen uang beredar dalam arti sempit (M1) dan surat berharga selain saham.

Sumber: BI, Jan 2020

Uang beredar dalam arti sempit (M1) tumbuh melambat, dari 10,5% (yoy) pada November 2019 menjadi 7,5% (yoy) pada Desember 2019, terutama disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan uang kartal dan giro rupiah. Perlambatan juga terjadi pada surat berharga selain saham, dari 31,3% pada bulan sebelumnya menjadi 26,5% (yoy) pada Desember 2019. Sementara itu, komponen uang kuasi tumbuh meningkat, terutama didorong oleh pertumbuhan giro valas, sehingga menjadi faktor penahan perlambatan pertumbuhan uang beredar yang lebih dalam.

Berdasarkan faktor yang memengaruhi, perlambatan M2 pada Desember 2019 disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan aktiva luar negeri bersih dan aktiva dalam negeri bersih. Pertumbuhan aktiva luar negeri bersih melambat, dari 4,6% (yoy) pada November 2019 menjadi 4,4% (yoy).

Sementara itu, perlambatan pertumbuhan aktiva dalam negeri bersih terutama disumbang oleh penyaluran kredit yang melambat menjadi 5,9% (yoy) dari capaian pada bulan sebelumnya sebesar7,0% (yoy).

Di sisi lain, operasi keuangan pemerintah justru tercatat ekspansi sebesar 3,7% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan ekspansi bulan sebelumnya sebesar 2,4% (yoy). Ekspansi operasi pemerintah tersebut sekaligus menjadi faktor penahan perlambatan M2 lebih dalam lagi.

Analis Vibiz Research Center melihat bahwa sebagian penyebab pelambatan pertumbuhan likuiditas kembali adalah melambatnya pertumbuhan kredit perbankan. Ini memang sedang jadi isyu hangat perbankan dewasa ini. Di akhir tahun 2019 masih terbatas permintaan kredit yang datang dari sektor korporasi. Mungkin juga kecenderungan peredaan aktivitas manufaktur. Lalu, pemicu lambatnya permintaan kemungkinan dengan belum kondusifnya ekonomi global yang dibayang-bayangi dengan risiko resesi, yang sedikit banyaknya ikut menahan pertumbuhan ekonomi domestik. Dalam kondisi demikian, banyak pihak korporasi memilih untuk wait and see.

Bagaimanapun, pelambatan pertumbuhan likuiditas ini belum sampai tahap menguatirkan. Kemungkinan berikutnya akan terjadi kenaikan pertumbuhan kembali, yakni dengan menjadi normalnya skala operasi bisnis dan manufaktur.

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here