(Vibiznews – Economy) – Mata uang rupiah mengindikasikan siap rebound, bangkit menguat terhadap dolar AS, setelah dalam periode 9 hari sebelumnya terus tertekan di tengah isyu wabah virus corona dan penguatan dollar secara global. Di pasar uang, rupiah sempat tampil menguat, bahkan setelah diumumkan secara resmi kasus infeksi virus corona di dalam negeri. Penguatan rupiah ini nampaknya dipicu oleh sejumlah faktor domestik dan eksternal.
Pada Selasa sore (3/3) nilai tukar rupiah bertengger di sekitar Rp 14.282/USD, menguat dari level terlemah 9 bulannya di Rp 14.420 pada Senin pagi (2/3).
Dalam pandangan penulis, ada beberapa faktor yang memungkinkan mata uang rupiah dapat perkasa kembali. Pertama, adalah tindakan BI yang cepat tanggap untuk menjaga kestabilan nilai rupiah. BI pada Senin siang (2/3) merilis lima (5) langkah kebijakan lanjutan untuk menjaga stabilitas moneter dan pasar keuangan, termasuk memitigasi risiko COVID-19.
Di antaranya adalah BI menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) valas dari 8% terhadap Dana Pihak Ketiga (DPK) menjadi 4% DPK, yang berlaku sejak 16 Maret. Penurunan ini diprakirakan akan meningkatkan likuiditas valas di perbankan sebesar US$ 3,2 miliar.
Aksi responsif BI ini langsung disambut positif pasar. Setelah tertekan terus selama 9 hari berturut-turut, rupiah berhasil rebound menguat terhadap US Dollar, ke level Rp 14.265 pada Senin sore (2/3).
Kedua, masih terkait konsistensi BI untuk melakukan langkah-langkah stabilisasi di pasar keuangan, khususnya nilai tukar dan pasar SBN. Salah satu program stimulus BI memang adalah meningkatkan intensitas triple intervention, dengan mengoptimalkan strategi intervensi di pasar DNDF, pasar spot, dan pasar SBN guna meminimalkan risiko peningkatan volatilitas nilai tukar Rupiah.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan baru-baru ini bahwa di pasar keuangan, BI sudah membeli SBN dari pasar sekunder sejumlah Rp 103 triliun (ytd). Di mana Rp 80 triliun itu dibeli sejak terjadinya corona virus, saat investor global melepas SBN.
Situasi pasar yang panik telah mendorong para investor global untuk keluar dari pasar, di antaranya dengan melakukan aksi jual besar-besaran pada bursa saham, pasar obligasi, bahkan sempat juga sampai menjual safe haven asset seperti emas sekalipun. Likuiditas pada kondisi seperti ini, dapat dipahami, adalah prioritas untuk pengamanan risiko yang memburuk.
Dana asing yang keluar, termasuk melepas SBN di dalam negeri, menurut penjelasan BI, pada periode akhir Januari sampai akhir Februari 2020 mencapai Rp 30,8 triliun. Terdiri surat berharga negara atau SBN sebesar Rp 26,2 triliun dan Rp 4,1 triliun dari bursa saham. Kondisi itu memang sempat membuat nilai tukar rupiah dan IHSG tergerus tajam di minggu terakhir Februari.
Aksi intervensi pasar yang cepat tanggap, yang disertai penjelasan BI oleh Dewan Gubernur lengkapnya, diterima dan disambut positif oleh pasar keuangan. Ini sekaligus berhasil meredam volatilitas tinggi pergerakan rupiah sebelumnya.
Yang ketiga, terkait dengan analisis pasar teknikal. Pelemahan rupiah dalam sebulan yang sekitar 3,7% telah membuat posisi rupiah yang sangat oversold. Secara teknikal rupiah mendadak menjadi sangat murah. Ini memberikan peluang untuk pelaku pasar uang untuk membeli kembali rupiah dan memberikan apresiasi kuat bagi rupiah. Pada Senin lalu, Rupiah tercatat sebagai mata uang terkuat kedua di Asia terhadap US dollar.
Yang keempat, ini menyangkut faktor luar negeri. Mata uang dollar AS memang sempat rally perkasa di pasar global, sampai US dollar Index bertengger di posisi 3 tahun tertingginya pada pertengahan Februari lalu. Namun kemudian terkoreksi oleh penguatan yen Jepang, sebagai safe haven currency utama di tengah penyebaran wabah virus corona. Lalu, belakangan ini dollar melemah lagi oleh prediksi pasar bahwa the Fed mungkin akan memangkas suku bunga acuannya, pada pertemuan 18 Maret nanti, bahkan diperkirakan bisa sampai sebesar 50 bps, untuk mengantisipasi risiko Covid-19 yang dikhawatirkan akan melambatkan pertumbuhan ekonomi Amerika dan global.
Faktor tren pelemahan dollar ini dapat menjadi amunisi tambahan bagi rupiah untuk meraih kembali kekuatannya. Sementara, jika Bank Indonesia juga memangkas suku bunga acuannya kembali, nanti pada pengumuman RDG 19 Maret, ini akan berpotensi memberikan tenaga baru bagi rupiah.
Penguatan mata uang rupiah terhadap dollar AS mungkin akan berlangsung bertahap. Bagaimanapun, pasar sepertinya sedang kurang normal. Panik membayangi di mana-mana. Namun demikian, cepat tanggapnya BI pasti diperhitungkan oleh pasar. Demikian pula, isyu virus corona di Indonesia. Informasi yang jelas dan menenangkan dari Presiden sampai Menteri Kesehatan berpotensi menenangkan pasar finansial.
Yang jelas terlihat, IHSG pada Selasa (3/3) sempat melejit 3% lebih. Positif terhadap perkembangan terkini pasar. Volatilitas pasar rupiah juga terindikasi lebih tenang, meski belum dalam tahap normal. Koordinasi strategis antara Otoritas Moneter, OJK, dan Kementerian Keuangan nampaknya sedang menunjukkan hasilnya.
Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting
Editor: Asido



