(Vibiznews – Economy) – Tahun 2020 akan selalu dikenang sebagai tahun yang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dunia terkepung dalam pandemic global virus corona yang datangnya dari Wuhan, China. Perekonomian seluruh dunia terjerat dalam resesi dan Indonesia tidak luput dari tekanan ini.
Ekonomi Indonesia dari momentum pertumbuhan yang cukup tinggi, dengan rata-rata 5% per tahunnya, dan merupakan yang ketiga tertinggi di antara negara-negara G20 pada akhir 2019, harus mengalami kontraksi juga. Pada kuartal I 2020 pertumbuhannya melambat ke +2,97%, lalu pada kuartal II menjadi -5,32%, yang terendah sejak krisis ekonomi 1998. Namun, pada kuartal III sudah menunjukkan indikasi pemulihannya dengan berkurangnya kontraksi menjadi -3,49%.
Gambar 1: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2018 – 2020

Gerak cepat Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo segera menunjukkan hasilnya. Pemerintah menggelontorkan program kebijakan yang komprehensif di tengah pandemi untuk ‘menyelamatkan jiwa dan perekonomian’, dengan menerbitkan Perpres 72/2020. Biaya penanganan Covid-19 ini adalah sebesar Rp695,2 triliun, setara dengan 4,2% PDB, dengan total realisasi per pertengahan November 2020 sudah sebesar 58,7%.
Program Pemulihan ekonomi Nasional tersebut berfokus pada kesehatan, jaminan sosial, sektoral K/L dan Pemda, dukungan UMKM, pembiayaan korporasi, dan insentif pada dunia usaha. Bersamaan itu, agar ekonomi dapat mulai bergerak, pada pertengahan tahun 2020 didorong adanya “Adapatasi Kebiasaan Baru” atau “new normal”.
Indikasi Pemulihan
Kuartal ketiga 2020 ini nampaknya menjadi titik balik untuk pemulihan ekonomi Indonesia. Secara umum, dapat dikatakan telah terindikasi berlanjutnya kinerja positif sejumlah indikator sampai akhir 2020, di antaranya dari peningkatan mobilitas masyarakat di beberapa daerah, perbaikan PMI Manufaktur yang berlanjut, dan menguatnya keyakinan serta ekspektasi konsumen terhadap penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan kegiatan usaha.
Gambar 2: Indonesia Manufacturing PMI 2020

Gambar 3: Mobilitas Masyarakat Beberapa Provinsi

Untuk sebagian gambaran saja, pada Gambar 3 ditunjukkan bagaimana mobilitas masyarakat di sejumlah provinsi besar bergerak naik, dari tekanan mobilitas yang terjadi sejak Maret dan April 2020. Ini dengan sendirinya mendorong pertumbuhan tingkat konsumsi masyarakat dan membawa ke arah kebangkitan ekonomi, mengingat juga ekonomi domestik kita ditopang sebagian besar (hampir 60%) oleh sektor konsumsi.
Di tempat lain, terlihat juga aktivitas manufaktur Indonesia (Gambar 2) dimana telah terjadi kebangkitan dari kontraksi pada Maret – Mei 2020. Terlihat di pertengahan tahun PMI Manufaktur terus membaik, sampai posisi ekspansi (di atas 50) pada akhir tahun 2020.
Yang menjadi perhatian belakangan ini juga adalah peningkatan ekspor non migas kita yang kinerjanya terus positif. Perkembangan ini dipengaruhi oleh peningkatan ekspor nonmigas, terutama pada komoditas lemak dan minyak hewan/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Pemulihan kenaikan harga komodias dunia belakangan ini juga mendorong kinerja ekspor kita. Bisa dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4: Ekspor Non Migas Indonesia

Sementara itu, baru-baru ini satu lembaga pemeringkat global Japan Credit Rating Agency, Ltd. (JCR) mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada level BBB+/outlook stabil (investment grade). Ini merupakan pengakuan internasional atas ketahanan perekonomian Indonesia di tengah pandemic. JCR memandang pengukuhan rating tersebut mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang solid ditopang oleh permintaan domestik, utang Pemerintah yang terkendali, serta resiliensi ekonomi Indonesia terhadap gejolak eksternal yang didukung oleh kebijakan nilai tukar yang fleksibel, kredibilitas kebijakan moneter, dan akumulasi cadangan devisa.
Selanjutnya, bagaimana dengan pertumbuhan di akhir tahun dan sepanjang 2020? Memang masih diliputi ketidakpastian, tetapi sejumlah pihak dan analis Vibiz Research optimis untuk melihat adanya perbaikan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. BI memprakirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2020 akan membaik dan mulai positif di kuartal 4, dan berada pada kisaran -1% hingga -2% pada 2020. Menteri Keuangan menilai pertumbuhan akhir 2020 akan lanjut dalam pemulihan, dengan tumbuh -0,6% hingga -1,7%. Sementara berbagai instansi lain memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional tumbuh -1% sampai -1,5%.
Pemicu Pertumbuhan dan Pemulihan
Memasuki tahun 2021, analis Vibiz Research Center menilai ada beberapa inisiatif dari Pemerintah pada tahun 2020 yang berdampak signifikan bagi pertumbuhan dan pemulihan ekonomi 2021. Di antaranya, dapat disebutkan:
- UU Cipta Kerja. Omnibus Law ini sebagai bentuk dari deregulasi, telah mengamandemen 79 UU dan 1244 pasal-pasal. Ini akan membawa efisiensi birokrasi dan pemangkasan aturan yang tidak perlu, terutama yang terkait dengan perizinan usaha dan investasi.
- Sovereign Wealth Fund. Pembentukan SWF ini, yang dinamakan dengan Indonesia Investment Authority (INA), atau Lembaga Pengelola Investasi (LPI), memberikan ruang besar untuk pembiayaan pembangunan yang tidak berbasis pinjaman, tetapi berbentuk penyertaan modal.
- Vaksinasi. Presiden Jokowi baru-baru ini menetapkan vaksinasi gratis bagi masyarakat Indonesia dimulai awal tahun 2021. Ini akan memberikan rasa aman bagi masyarakat, dan meningkatkan keyakinan konsumen dan produsen untuk segera memacu roda perekonomian selanjutnya.
- Kelanjutan PCPEN (Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional) yang tentunya akan kembali memberikan stimulus pemulihan dengan anggaran tahun 2021 sebesar Rp372,3 triliun.
Outlook Indikator Ekonomi 2021
Dalam pandangan analis Vibiz Research Center, di tahun 2021 ini dapat diekspektasikan adanya pemulihan pada sejumlah sektor dan memicu percepatan pemulihan ekonomi nasional. Vaksinasi kemungkinan dapat menjadi pemicu yang kuat, apalagi dengan Presiden telah menetapkan sebagai gratis bagi rakyat Indonesia. Dengan terdorongnya keyakinan konsumen, maka mobilitas dan aktivitas masyarakat -yang sudah meningkat- akan semakin bertambah lagi peningkatannya. Tingkat konsumsi dengan demikian akan berputar lebih cepat dan mendorong perekonomian dalam negeri.
Memang hambatan utama yang kita hadapi -sebagaimana dihadapi seluruh dunia- adalah terus meningkatnya kasus virus, bahkan ditemukan lagi varian baru di Inggris. Namun dengan adanya vaksinasi, ditambah lagi akan diluncurkannya vaksin yang buatan Indonesia, “Vaksin Merah Putih”, ini diharapkan dapat menekan pertambahan kasus virus. Vaksin Merah Putih ini bisa jadi akan lebih kuat dampaknya dari vaksin yang diimpor negara lain, karena ini penelitiannya pada virus di daerah tropis seperti Indonesia.
Kemudian mengenai UU Cipta Kerja. Kita dapat ekspektasikan pergerakan kebangkitan sektor UMKM di tahun 2021 karena UU ini sangat pro-UMKM. Diharapkan juga akan banyak lahir pengusaha UMKM baru, dan banyak yang berbasis digital. Kita sadari bahwa ekonomi masa depan adalah ekonomi digital. Ini dipercepat lagi sekarang dengan adanya pandemi di tahun ini.
Sovereign Wealth Fund merupakan terobosan besar di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi. Lembaga yang sudah sejak lama diharapkan ada, kini terealisasi. Infonya saat ini sudah ada beberapa negara yang menyatakan tertarik untuk masuk dalam penyertaan modal di sini, yakni: Amerika Serikat, Jepang, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Kanada.
Ditambah dengan diprioritaskannya terus program pembangunan infrastruktur di tahun 2021, terutama untuk yang padat karya serta mendukung kawasan industri dan pariwisata agar memberikan multiplier effect yang besar, pendanaan di bawah INA ini akan mendapatkan lokasinya yang tepat sasaran. Tentunya ini mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi kita.
Dengan mempertimbangkan sejumlah prospek perkembangan di atas, berikut ini perkiraan outlook beberapa idikator ekonomi Indonesia untuk tahun 2021:
- Pertumbuhan PDB
Pemerintah memasang target pertumbuhan ekonomi Indonesia 2021 berkisar 4,5% – 5,5%. Bank Indonesia perkirakan akan mencapai 4,8 – 5,8%. Sementara itu beberapa Lembaga internasional menyebutkan: IMF (6,1%), World Bank (3% – 4,4%) dan ADB (5,3%).
Analis Vibiz Research dalam hal ini perkirakan di angka 5,3% atau sekitar itu untuk pertumbuhan ekonomi tahun 2021. Kita berharap juga pertumbuhan ekonomi Indonesia ini selanjutnya akan kembali kepada momentum pra-Covid, di sekitar level 5%.
- Tingkat Inflasi
Sampai akhir November 2020, tingkat inflasi Indonesia tercatat rendah sejalan permintaan yang belum kuat dan pasokan yang memadai, yakni sebesar 1,59% (yoy). Perkiraan untuk tahun 2020 ini akan berada di level 1,5% (yoy), di bawah dari target Bank Indonesia 3% (+/- 1%). BI nampaknya akan kembali memasang target yang sama untuk tahun 2021.
Dengan, antara lain, semakin meningkatnya aktivitas dan mobilitas masyarakat yang mendorong tingkat permintaan dalam negeri, analis Vibiz Research memperkirakan tingkat inflasi tahun 2021 akan berada sekitar 2% – 2,5% (yoy).
- Nilai Tukar Rupiah
Mata uang rupiah cukup fluktuatif di tahun pandemi ini. Sempat melemah tajam ke level Rp15.570/USD pada akhir Maret 2020, lalu menguat tajam sampai ke sekitar Rp13.850/USD di minggu pertama Juni. Di akhir Desember berkisar Rp14.150’an/USD.
Untuk tahun 2021, Pemerintah memasang asumsi Rp14.600/USD dalam RAPBN 2021. Analis Vibiz Research melihat tetap adanya peluang penguatan bagi rupiah, di tengah juga sentimen yang cenderung bearish bagi US dollar karena kebijakan moneter longgar dari Federal Reserve. Range-nya penulis perkirakan di sekitar akhir tahun 2021 berada pada Rp13.500 – Rp14.000/USD.
Secara kesimpulan singkatnya untuk prospek ekonomi Indonesia di tahun 2021 adalah prospektif, dan optimis untuk pemulihan ekonomi yang lebih cepat di tengah pandemi global ini. Mari kita dukung bersama.
Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting
Editor: Asido



